Sex pertama dengan saudara sendiri

2 comments

Temukan kami di Facebook
Saya punya kebiasaan onani sama seperti cowok teman-teman saya. Tapi sebagai perangsang, saya nggak hanya memakai buku atau film BF tapi juga orang. Soalnya saudara saya banyak yang cewek plus cakep-cakep masih SMP, bodinya jadi. Karena rumah saya yang besar, saudara saya (terutama yang perempuan) sering menginap, nah waktu itu yang saya suka. Biasanya malam-malam saya naik ke kamar tamu, dan mengendap-ngendap. Saya naik ke atas ranjang dan mulai aksi saya dengan pegang-pegang bodi saudara saya sambil ngocok. Nggak jarang saudara saya tidur nyenyak banget sehingga saya bisa ngobel-ngobel vaginanya.

Nah, kebetulan minggu lalu pas libur Sidang Umum saudara saya menginap. Ada satu saudara perempuan saya yang asli cantik namanya Joyce. Saya kepingin benar ngobel vaginanya tapi nggak dapat, soalnya dia baru kepegang paha saja sudah sadar. Tapi ini malam lain, saya memulai petualangan saya lagi. Saya naik ke kamar atas, terlihat si Joyce tidur dengan posisi nafsuin. Menghadap ke atas (telentang) kaki rada mengangkang. Darah saya sudah berdesir saja. Saya mulai naik ke atas ranjang, ternyata dia memakai celana longgar. perlahan-lahan saya mulai tarik celananya ke bawah dan mengintip ke dalam. Kelihatan CD-nya. Saya sudah mau masukan tangan saja. Tapi saya takut dia bangun. Tapi, lama-lama saya nggak tahan juga. Saya masukan tangan saya, wah dia diam saja. Saya masuk lebih dalam lagi. Nyentuh CD-nya, saya mulai mau tarik CD-nya. Tangan saya satu lagi ngocok-ngocok penis saya. Tahu-tahu dia bagun dan melihat saya lagi pegang penis saya. Wah, saya kaget dan buru-buru kabur sambil berharap dia melupakan dan dikira mimpi. Saya mau tidur lagi, "Sialan", dalam hati saya. Saya belum klimaks nih. Akhirnya saya tidur juga. Eh, malamnya saya merasa ada yang memegang tubuh saya. Saya bangun, ternyata si Joyce lagi memegang penis saya sambil tangannya masuk ke dalam CD-nya. Astaga, dia kaget juga, tapi terus berbicara.
"Dengan ini kita seri ya?" terus dia mau pergi. Menyadari gelagat asyik ini saya langsung berkata, "Eh jangan pergi. "
Terus dia bertanya "Emang kenapa loe marah?"
"Nggak kok, loe demen pegangin barang gua, gue kepenget liat barang loe gimana kalau kita tukeran?"
Dia diam sebentar terus bicara, "Yang benar?"
"Iya",
"Ya sudah dech, tapi loe duluan ya?"
Terus saya pun tarik celana saya yang longgar (maklum piyama) dan terlihatlah penis saya yang asli tegang (Penis saya 12 cm diameter 4 cm). Lumayan buat anak 16 tahun. Dia kelihatan senang ditambah horny.
"Boleh gue pegang?"
"Loe mau apain juga boleh asal jangan disakitin."
Tangannya bergerak perlahan gemeteran, dia pegang penis saya. Darah saya berdesir waktu tangannya menyentuh penis saya. Baru sekali penis saya dipegang, dielus sama perempuan. Tangan yang satunya memegang celananya sendiri sambil sesekali menggesek. Saya lihat tambah horny.
"Eh, Joyce cukup donk, giliran lu."
"Nggak ah malu",
"Eh, loe sudah janji, lagian cuma kita berdua kok."
"Ya sudah."
Dia pun mulai memegang celananya.
"Eh, tunggu, boleh nggak saya yang buka?"
Dia berpikir terus bilang, "Boleh dech",

Tangan saya mulai memegang celananya. Terus saya gesek bagian vaginanya dia diam saja. Terus perlahan-lahan saya tarik celananya turun, kelihatan CD-nya putih. Terlihat di bagian vagina agak basah, perlahan dari samping saya tarik CD-nya. Tangan saya gemetar. Dia juga terlihat agak malu. Saya tarik ke samping, terlihat vaginanya, bulu kemaluannya paling baru 5 lembar (maklum baru 13). Saya buka sedikit, bau amis campur pesing mulai menyebar.
"Boleh saya elus?"
"Boleh",
Saya mulai mengelus vaginanya, pas saya buka sedikit, kelihatan ada daging kecil di bagian atas, saya heran.
"Ahh, nikmat Di! Lagi donk",
Tiba-tiba dia teriak, saya kaget. Terus saya dapet ide,
"Gimana kalau vagina lu gue gesek pakai penis saya?"
"Hah, jangan saya masih mau perawan",
"Tenang cuma luarnya doang gua jamin perawan lu nggak hilang",
"Benar?"
"Benar",
"Ya sudah."
Terus CD-nya saya tarik ke bawah dan CD saya saya turuni sendiri. Saya suruh dia tiduran, terus saya letakan penis saya di atas vaginanya (waktu itu saya sudah takut ketahuan bokap) terus saya gesek naik turun.
"Ahh nikmat Di, nikmat banget cepetan dikit Di."
Wah saya semakin nafsu saja saya gesek lagi, sementara vaginanya semakin banjir.
"Ahh terus Di, clit gua donk diutamain",
"Hah, apaan tuh clit?"
"Itu daging kecil yang tadi loe pegang",
"Oohh."
Terus saya mulai mencari "clit" tersebut dan saya gesek pakai kepala penis saya. "Ahh nikmat Di terus Di."
Saya semakin nafsu saja, terus dia bercanda bicara begini,
"Ahh, uhh, ini mah dimasukin lebih nikmat kali ya?"
Saya yang nafsu senang benar dengar begitu. Saya ambil koran terus saya alaskan pantatnya.
"Ngapain Di?"
Saya diam saja terus saya pelan-pelan cari lubang vaginanya dan saya sodok masuk penis saya.
"Ahh, jangan Di, adduuh sakit Di, please jangan ahh!"Saya kasihan juga saya tarik sedikit. Terus saya sodok sekuat tenaga"Ahh sakit banget Di, aduhh.."
Saya cuek terus saya sodok sedikit. Sambil memegang payudaranya saya bisa melihat dia menangis. Tapi saya cuek, saya kayuh saja terus.
"Ahh Di sakit Di, loe tega loe Di, pokoknya perawan gue lu yang ambil."Tapi lama-lama dia diam juga, dia malah mulai menikmati.
"Ahh, Ahh, ohh, terus nikmat juga, teruss."

Mungkin karena sama-sama baru, nggak lebih dari 15 menit kita sama-sama klimaks, saya keluarkan sperma saya di dalam, asli nikmat banget. Setelah selesai, kita duduk senderan, koran tatakan tadi ada noda darah, darah perawan dia. Saya lihat dia menangis sambil nmenyandarkan kepalanya ke dada saya.
"Ah, Di, loe ngambil perawan gue, gue nyesel, tapi nikmat kok, gue tapi nggak ngarep loe mau tanggung jawab, asal loe mau begini terus sama gue, lagian gue juga kok yang mulai."
"Nggak, apapun yang terjadi saya tanggung, setelah cukup umur loe bakal gue nikahin apapun resikonya."
"Benar?"
"Suer!"
"Asyikk, loe baik deh, lain kali gue mau lagi deh."

Sekian pengalaman saya dahh!

Tamat


Sepupuku yang pendiam

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku baru selesai mandi sore dan mulai membuka buku untuk dibaca. Tetapi kulihat seseorang memasuki halaman dan aku segera menguakkan korden agar lebih jelas siapa yang memasuki halaman itu. Aku kaget dan gembira, ternyata yang datang adalah Eva, saudara sepupuku yang kuliah di Surabaya, semester pertama, usianya sekitar 19 tahun.
"Hai, kamu sukanya bikin kejutan. Kenapa nggak bilang-bilang kalau mau datang?" kataku basa-basi.
"Kalau bilang dulu mau nyediain apa.."

Setelah basa-basi kutawarkan mandi dulu agar hilang capeknya. Selesai mandi, ia membereskan kembali tasnya. Sepintas ia melihat dinding di sekeliling kamarku, yang penuh dengan gambar telanjang. Dia tersenyum dan berkomentar.
"Bagaimana kalau ada anak-anak yang masuk ke kamar ini", aku jawab bahwa kamar ini khusus untuk orang yang sudah dewasa.
"Kalau begitu ada gambar yang lebih porno lagi dong.."
"Ada, mau lihat?"
Sebelum menjawab, kuambilkan beberapa foto porno kegemaranku yang kusimpan di dalam lemari pakaianku.
"Mau lihat, nggak apa-apa kok untuk pelajaran aja."

Dengan ragu-ragu ia terima juga foto-foto kategori XX, dan dilihatnya dengan cermat, entah apa yang berkecamuk di dalam hatinya aku tidak tahu, tapi terlihat ekspresinya begitu tenang sekali. Entah karena sudah terbiasa, atau karena begitu pandainya ia menyembunyikan perasaannya.

"Gimana, komentar dong."
"Ada filmnya nggak?"
"Nggak ada, tapi kalau yang asli justru ada", kataku sambil bergurau.
"Yang asli mana, coba" aku terkejut mendengar pernyataannya, sampai-sampai aku hampir tidak bisa menjawabnya.
"Eh, ada tapi itu anu.." aku jadi gugup, sambil kuarahkan jariku ke arah kemaluanku.
"Tapi apa Mas.."
"Tapi harus ada gantinya, barter gitulah."
"Tapi kalau yang ini aku nggak punya", sambil ujung jarinya menunjukkan kemaluan pada gambar yang ia pegang.
"Yang semacam juga nggak pa-pa"
"Yang bener nih", sambil tangannya bersiap-siap mau memegang daerah terlarangku yang masih terbungkus celana.
"He-eh bener", kujawab saja sekenanya, aku kira hanya gertakan saja dia mau memegang kemaluanku. Betapa kagetku ternyata tangannya benar-benar memegang kemaluanku dari luar celana.

Aku tidak bisa bilang apa-apa, selain menikmatinya dengan perasaan senang. Secara refleks kuraih kepalanya dan kudekap sambil dalam hati berkecamuk memikirkan peristiwa ini. Kalau pacar atau orang lain aku tidak bingung, tetapi ini adalah saudara sepupuku yang sewaktu kecil sering bermain bersama. Tetapi karena ia terus mengusap kemaluanku dari luar celana, aku buang pikiran itu jauh-jauh keraguanku. Keputusanku adalah menikmati saja peristiwa ini.

Kucium keningnya, pipinya dan bibirnya. Sambil kugerayangi punggungnya, lehernya, pinggangnya, pantatnya dan terakhir buah dadanya. Sebagai penjajakan saja apa reaksinya. Ternyata ia diam saja, bahkan semakin keras memegang selangkanganku. Terus kuciumi bibirnya sampai nafasnya memburu. Kubuka kausnya, dan aku melihat kulit tubuh yang tidak pernah terkena matahari itu demikian menimbulkan birahiku. Kubuka BH-nya dan tambah kagum aku atas keindahannya. Kuelus buah dadanya yang kenyal dan sekali-kali kupencet putingnya yang membuat nafasnya makin memburu. Begitu aku berusaha mencium buah dadanya, ia mundur sambil menarik tanganku ke arah tempat tidur.

Dalam keadaan telentang tampaknya ia sudah siap menerima tindakanku berikutnya, buah dadanya yang menantang bergelantungan. Sebelum aku mendekatkan diri, aku melepaskan pakaianku hingga tuntas, sehingga batang kejantananku yang sudah membesar tergantung-gantung mengikuti gerak dan langkahku. Bersamaan dengan itu ia melepaskan juga pembungkus tubuhnya yang masih tersisa, sehingga kami benar-benar sudah telanjang bulat. Tubuhnya benar-benar mulus, tidak ada cacat, payudaranya sedang, masih kencang, puting susunya coklat tua, mendekati hitam, perutnya ramping, lipatan kecil di perutnya menunjukkan belum begitu banyak lemak di situ, pinggulnya sedang, bulu kemaluannya tipis, sehingga bibir kemaluannya yang mengatup dengan rapi terlihat begitu indahnya.

Ia raih batang kemaluanku, dan aku mendekatkan diri sehingga mudah baginya untuk mengulum dan menjilati batang kejantananku. Sementara tanganku tanpa kusadari sudah meraih bibir kemaluannya yang sudah basah. Kuelus-elus bibir kemaluannya sambil kucari dan sesekali kusentuh klitorisnya. Dan kumasukkan jari tengahnya menggapai dasar kemaluannya. "Jilat kepalanya", aku berbisik kepadanya. Dengan sigapnya ia segera tahu maksudku. Ia segera mulai menjilati kepala kemaluanku yang semakin membesar saja dan mengkilap oleh jilatan. Rasa geli dan nikmat bercampur jadi satu. Birahiku benar-benar sudah sampai di ujung, ingin segera mengikuti naluriku untuk segera memasukkan ke dalam liang senggamanya. Tetapi nanti dulu, kuciumi dulu tubuh Eva, dari mulai bibir, telinga, leher, buah dada, perut dan liang kewanitaannya. Kujilat-jilat klitorisnya yang membuat dia menggelinjang ke kanan kiri tidak karuan, pantatnya dia angkat tinggi-tinggi sehingga aku mempunyai ruang yang baik untuk melakukan kegiatanku menjilati klitorisnya yang sekilas kulihat semakin bengkak dan merah.

Sampai suatu saat tubuhnya makin menegang sambil berteriak menyebutkan sesuatu yang tidak jelas, bersamaan dengan itu membanjirlah cairan bening dari liang kewanitaannya. "Aku sampai Mas, aku sampai Mas.." begitulah ucapan yang kutangkap dengan nafas terengah-engah.

Kemudian kuambil posisi untuk menyetubuhinya, kemaluanku yang sudah tegang dan membesar di ujungnya kusiapkan di depan pintu gerbang kewanitaannya. Dengan bimbingan tangannya, kumasukkan kemaluanku sampai habis tertelan oleh liang kenikmatannya. Kembali ia mengerang, sambil memelukku dengan keras. Sejenak kudiamkan saja batang kejantananku di dalam. Kurasakan pijitan liang kewanitaannya sangat membuatku semakin nikmat. Batang kejantananku masih kudiamkan terendam di situ.

Eva mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, sampai kusentuh dasar kemaluannya yang terasa seperti benjolan yang semakin keras menyentuh-nyentuh kepala kemaluanku. Semakin nikmat rasanya, sehingga aku sendiri tidak tahan lagi dengan gesekan dan pijitan dari liang senggamanya sehingga otot-otot pada tubuhku menegang dan bersamaan dengan itu, tanpa kusadari keluar maniku membasahi dan menghangatkan dasar kemaluannya. Kurasakan Eva lagi-lagi mencapai orgasme. Kali ini lebih panjang erangannya, semakin kuat ia memelukku dan gerakan tubuhnya semakin tidak teratur. Kutancapkan dalam-dalam kemaluanku, hingga kami saling berpelukan. Beberapa detik kemudian kami terkulai. Aku masih belum ingin mencabut kemaluanku yang bersarang dengan damai di liang sorganya. Kubalik tubuhku sehingga ia menjadi menindihku. Eva benar-benar puas dan sangat-sangat kelelahan. Beberapa menit kemudian ia sudah tertidur dengan pulas. Kemaluanku yang sudah melemah masih berada di dalam liang kewanitaannya.

Aku pun tertidur, dengan perasaan lega. Tengah malam kami bangun dan bermain lagi sampai puas. Tiap bangun bermain lagi. Sampai akhirnya kami benar-benar tertidur hingga jam 10 pagi. Karena di rumah tempat kost-ku cukup tesedia makanan instan. Sehingga hari itu kami bisa melakukan dengan sepuas-puasnya, dan kami merasa tidak perlu lagi memakai baju di dalam rumah. Memasak air, menyapu mencuci piring selalu diselingi dengan adegan percintaan. Sampai sore hari ia berpamitan kembali ke Surabaya melanjutkan kuliahnya. Sejak saat itu ia sering ke kotaku. Sampai ia mempunyai pacar dan menikah.

Tamat


Reny dan Reny

0 comments

Temukan kami di Facebook
Aku ingin berbagi cerita dengan sesama penggemar Rumah Seks. Cerita ini terjadi beberapa waktu yang lalu. Semuanya bermula ketika penerimaan mahasiswa baru di kampusku. O iya, aku adalah salah satu mahasiswa di salah satu perguruan tinggi ternama di kotaku. Saat itu, maklumlah namanya juga senior, maka semua mahasiswa baru baik itu mahasiswa baru cowok maupun cewek tunduk atas semua perintahku.

Pada hari kedua orientasi pengenalan kampus, aku berkenalan dengan seorang mahasiswa baru yang bernama Reny dan berasal dari luar pulau. Anaknya imut-imut, manis dan lucu, membuatku sangat tertarik kepadanya. Berbagai cara pun kucoba untuk melakukan pendekatan, sehingga berhasil menjadikannya pacar.

Singkat cerita, setelah dua bulan pacaran aku mengajak dia jalan-jalan ke rumahku yang kebetulan lagi kosong. Setelah sampai di rumah, kami bercerita sebentar, mulai dari hal-hal yang berbau kampus hingga menyentuh masalah seks. Ternyata ia melayaniku dengan semangat, sampai pikiranku pun melayang ke hal-hal yang tidak-tidak. Aku berusaha memancingnya terus dengan menambah bumbu-bumbu cerita, dan dia pun terangsang. Perlahan-lahan kudekatkan tubuhku padanya dengan hati-hati, takut siapa tahu dia menolak. Diluar dugaan, dia tidak menghindar, maka kucoba lebih jauh lagi dengan cara menciumnya. Ternyata dia membalas kecupanku dengan penuh nafsu. Aku menjadi lebih berani lagi.

Aku berusaha untuk membuka baju dan celana panjang yang ia pakai. Ohh betapa indahnya bentuk tubuhnya ketika kulihat hanya menggunakan penutup buah dada dan celana dalam putihnya. Aku pun tidak tahan lagi, sambil mengulum bibirnya yang basah, aku pun membuka seluruh pakaianku. Dia terkejut dan takjub ketika melihat batang kemaluanku yang besar telah tegang.
Dia membuka penutup dada dan celana dalamnya dan memegang batang kemaluanku sambil berkata, "Kak, besar sekali punyamu, aku kok ingin mencobanya..!"
Sambil menahan nafsu, aku membaringkan Reny ke lantai.

Awalnya kami hanya bergelut dengan saling berpelukan saja, tetapi keinginan untuk melakukan yang lebih dari itu pun tidak dapat kami bendung lagi. Hingga pikiran sehat dan rasa ingin memeperlakukan Reny selayaknya wanita yang baik pun sirna saat itu. Kami saat itu sudah dilingkupi oleh keinginan birahi yang sangat tinggi.
"Ren.., aku ingin mencium milikmu, boleh kan..?" tanyaku merayunya.
"Oh.., Kak.. Lakukan saja, aku sudah tidak tahan lagi..!" jawabnya sambil tangannya mencoba memegang batang kemaluanku yang sudah berdiri tegak itu.

Kami saling melakukan oral seks dengan posisi 69. Kegiatan kami yang satu itu berlangsung hingga 10 menit, dan kami pun terhenti bersamaan karena rupanya sama-sama menginginkan hal yang lebih lagi.

Setelah itu aku mulai memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang keperawanannya secara perlahan-lahan. Dia meringis menahan sakit yang teramat sangat, tapi tidak berusaha untuk menolakku. Aku pun bertambah semangat untuk mengocok liang keperawanannya dengan cepat sambil menggoyangkan pinggulku.

Setelah 15 menit kami bermain cinta, aku mengajaknya terbang ke alam nikmat.
Aku mendengarnya mendesis, "Ssshh.. ahh.. Kak.., nikmat sekali.., teruuss.. Kaak.. sepertinya ada yang mau keluaarr.."
Aku berpikir bahwa dia sudah mencapai orgasme yang pertama, terus saja aku mengocoknya dan tiba-tiba, "Kakk.. aku keluar..!" dan memuncratlah cairan kental berwarna putih kemerah-merahan, tanda bahwa keperawanannya telah kutembus.

Sampai empat kali dia mengalami orgasme. Dia kulihat mengalami lemas lunglai, sedangkan aku sendiri belum. Lama-kelamaan daya tahanku mulai berkurang juga. Sambil menahan rintihan kenikamatan, aku merasa spermaku sudah saatnya dikeluarkan. Aku pun mengeluarkan batang kemaluanku dari dalam liang kewanitaannya sambil mengerang.
"Aaahh.. Reny.. kamu betul-betul hebat sayang..!" dan cairan putih kental dari dalam batang kemaluanku tertumpah di wajahnya.
Dia kemudian menjilati batang kemaluanku yang besar itu sambil tersenyum puas.

Setelah bersih dari cairan sperma dan cairan kewanitaannya, aku pun mengecup bibirnya dengan hangat. Kami kembali melakukan percintaan sambil berpelukan di bawah lantai. Tidak terasa kami pun tertidur pulas.

Setelah terbangun, aku melihat Reny masih tertidur pulas di lantai. Aku duduk sebentar di sofa. Tiba-tiba aku teringat pengalaman masa lalu saat aku berumur 15 tahun. Aku mempunyai seorang tante yang bernama persis dengan nama pacarku ini. Ya, nama tanteku juga Reny. Waktu itu aku dan tante tinggal serumah, karena ayah dan ibuku lagi keluar kota untuk mengurus pernikahanpamanku.

Karena takut tidur sendiri, maka tanteku minta tolong agar aku menemaninya di kamarnya, kebetulan di kamar tanteku ada dua buah tempat tidur yang letaknya bersampingan. Malam itu entah karena kelelahan, aku dan tanteku lupa memasang anti nyamuk elektrik, dan bisa ditebak seluruh badanku diserbu nyamuk yang memang tidak tahu diri.

Tengah malam aku terbangun karena tidak tahan akan serangan nyamuk yang tidak tahu diri itu. Aku berbalik ke arah tanteku dan melihat dia tertidur pulas sekali. Karena kamar itu hanya diterangi lampu pijar 10 watt, maka samar-samar aku dapat melihat tubuh molek tanteku yang terbaring merangsang. O ya, walaupun sudah berumur 26 tahun, tanteku mempunyai wajah yang masih sangat muda dan cantik. Entah karena nafsu, aku memberanikan diri menghampiri tanteku. Kulihat daster yang dipakainya tersibak di bagian selangkangannya.

Aku mencoba mengintip dan melihat gundukan kecil dari balik celana dalamnya. Ah, betapa aku ingin melihat yang ada di balik celana dalam itu.
Tiba-tiba tanteku terbangun, "Hei.., apa yang kamu lakukan..?"
Karena terkejut, aku pun menjawab asal-asalan, "Tadi aku melihat tikus tante.."
Tante Reny menjerit sambil memelukku, "Ahh.., dimana tikusnya..?"
Sambil terbata-bata karena gugup, aku menjawab bahwa tikusnya sudah lari. Aku pun kembali ke tempat tidur dan akhirnya tertidur pulas hingga pagi hari.

Keesokan harinya, saat sarapan aku lihat tanteku tersenyum-senyum sendiri, tapi aku takut untukmenanyakannya. Aku merasa, kalau tanteku itu sepertinya mengetahui kelakuanku tadi malam, tapi karena memang aku masih merasa tidak enak dengan tanteku, maka aku pun diam saja.

Malam harinya aku sengaja tidak tidur agar bisa mengambil kesempatan seperti malam sebelumnya. Dan saat itu pun tiba. Tepat tengah malam, saat kulihat tanteku tertidur pulas, aku mengendap ke tempat tidurnya dan mencoba mengintip. Astaga, yang kulihat bukan lagi celana dalam putih yang biasa dipakainya, melainkan gundukan kecil yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Sambil membayangkan yang tidak-tidak, aku tidak menyadari bahwa celanaku sudah merosot turun. Ya, tanteku ternyata tidak tidur.
"Masih belum tidur, De..?" tanyanya.
Aku pun sadar karena tenyata tante Reny memegang batang kemaluanku dan berkata, "Wah.., sudah besar yaa..?"
"Ihh.., geli tante..!" jawabku mencoba menghindari pegangan tangannya di kemaluanku.

Tidak hanya itu saja, karena kemudian tanteku bagun dari tempat tidurnya dan langsung mengulum kemaluanku yang sudah jelas berdiri dengan tegaknya. Dia mengulum, hingga aku meringis menahan rasa nikmat dan sedikit kesakitan, karena memang tanteku terlalu bernafsu mengulum kemaluaku, hingga sempat giginya menyentuh batang rudalku. Tante Reny kemudian membuka seluruh pakaiannya dan menyuruhku untuk naik ke atas. Dia membimbingku untuk menindihnya.

"De.., ayo naik..! Tante tahu kok kamu juga ingin kan..?" katanya manis mencoba membujukku.
Aku pun naik dan tanteku membimbing batang kemaluanku yang saat itu masih belum terlalu besar masuk ke dalam liang kewanitaannya sambil mengerang.
"Ayo.. De.., kamu pasti bisa. Jangan diam begitu dong..! Gerakkan maju mundur. Ayoo, yahh.. begitu.., ahh enak De..!" katanya kesetanan.
Benar-benar aku mencoba mengerahkan segala kekuatan dan keahlian yang kudapat dari beberapa kali menonton film porno untuk menerapkannya pada perbuatan kami itu.

"Terus De.., terus.., tante merasa enak..!" katanya memuji goyangan tubuhku dan rudalku yang mencoba memuaskan gairah kenikmatan tanteku.
Aku pun merasa keenakan dan akhirnya, "Crutt.. crutt.. crutt..!" air maniku pun keluar.
"Wah.., belum apa-apa sudah keluar. Tapi tidak apa-apa.., wajar kok bagi pemula.."
"O ya.. tante.., normalnya berapa lama baru air mani keluar..?" tanyaku tanpa malu-malu lagi.
"Satu jam.." katanya sambil tersenyum simpul.

Kami terus saja melakukan hal itu dalam berbagai macam gaya. Aku tentu saja menikmatinya, karena itu merupakan pengalaman seks pertamaku.

Setelah malam itu, kami beberapa kali melakukan hubungan seks sampai daya tahanku betul-betul teruji. Kami melakukan diantaranya di kamar mandi, sofa dan tentu saja kamar tanteku. Memang saat-saat bersama tanteku dulu, merupakan kenangan yang indah untuk kehidupan seksku.

Aku terus saja melamun sampai kudengar suara Reny menegurku, " Kak.., antarkan aku pulang..!" katanya sambil merangkul diriku.
"Eh, Reny.., kamu sudah bangun..?" tanyaku terbata-bata karena kaget.
"Kak.., lain kali kita bikin lagi yaa..?" pintanya manja.
"Iyalah.., nanti. Enakkan..?" tanyaku lagi.
"Iya.. Kakak hebat mainnya, Reny sampai ketagihan..!" katanya sambil merangkul tubuhku dengan erat dan kemudian mencium pipi kananku.
"Iya dong.., siapa dulu..!" balasku juga sambil mencim keningnya.
Hanya sebentar setelah percumbuan kami yang indah itu, kami berpakaian kembali dan membersihkan ruangan itu yang sempat agak berantakan. Kemudian aku pun mengantar Reny pulang dan tersenyum puas.

Tamat


Maafkan saya Tante

0 comments

Temukan kami di Facebook
Nama saya Doni, saya siswa kelas 3 SMP di bilangan Menteng, saya mau menceritakan pengalaman seks saya dengan tante saya. Saya memiliki tante yang bernama Nina (bukan nama sebenarnya). Ia adalah WNI keturunan, begitu pula saya. Tante Nina telah mempunyai dua anak (9 dan 11 tahun). Walaupun ia telah mempunyai anak, tubuhnya masih seperti mahasiswi. Kulitnya putih mulus, beratnya sekitar 50 kg, tampangnya seperti Vivian Chow.

Hari Minggu kemarin, saya pergi ke rumah kakek saya. Sebagai informasi, Tante Nina masih tinggal bersama dengan kakek dan nenek saya di Jakarta Timur. Saya dititipkan di rumah kakek saya soalnya orang tua saya ingin menghadiri pesta perkawinan bersama kakek dan nenek saya. Kebetulan Tante Nina sedang ada di rumah. Suaminya (adiknya Papa saya) sedang pergi ke Bandung.

Singkat cerita, saya pergi ke kamar mandi Tante Nina (soalnya yang paling dekat dengan tempat saya duduk). Begitu saya mau pipis, saya melihat vibrator di pinggir bath tub. Nampaknya vibrator tersebut habis digunakan. Soalnya masih tercium jelas bau vagina dari vibrator tersebut. Setelah keluar dari kamar mandi, saya dipanggil tante saya ke kamarnya. Sesampainya saya di kamarnya, ia meminta saya untuk mengambilkan tasnya di tempat yang tinggi. Saat itu Tante Nina sedang memakai T-shirt tanpa lengan berwarna putih. Dengan begitu, saya dapat melihat sedikit payudaranya. Dengan keadaan seperti itu, saya langsung terangsang. Saya tidak dapat menahan nafsu saya lagi, saya segera menutup pintu dan menguncinya. Saya menghampiri tante saya dan menjatuhkannya ke ranjang. Saya segera menyergap tante saya yang terkulai di tempat tidur. Tante Nina terus menerus berteriak, tapi nampaknya tidak ada yang mendengar, soalnya rumahnya kakek saya termasuk besar (1500 m2). Saya segera mengikat tangan Tante Nina ke kepala ranjang. Saya mulai menciumi wajahnya yang halus, lalu lehernya dan terus turun sampai ke dadanya. Saya segera melucuti T-shirtnya (walaupun sedikit susah, karena kakinya menendang-nendang). Akhirnya semua bajunya berhasil saya lucuti. Sehingga tidak ada seutas benang pun yang masih menempel di badannya. Lalu saya segera masukkan jari saya ke vaginanya. Sekitar 5 menit kemudian, Tante Nina mulai tenang dan mulai menikmati permainan jari saya di vaginanya.

Ia mendesah "Sshh.. sshh.. Ssshh.. Sshh. Masukin penis kamu dong Don, tante sudah kagak tahan." Mendengar perkataan tante saya, saya segera membuka celana saya dan memasukkan penis saya ke liang vaginanya "Blless". Amblas sudah penis saya ke dalam vaginanya. Lubang vaginanya masih tergolong sempit bagi wanita yang sudah tidak perawan lagi. Saya mulai memaju mundurkan penis saya. "Ennaak.. Don.. terus masukin, teriak tante saya. Setelah 10 menit kemudian tubuh tante saya mengejang dan "Aahh.. aahh.. aahh." Nampaknya tante saya sudah orgasme. "Tunggu sebentar lagi tante, saya sedikit lagi juga mau keluar", sahut saya. Saya percepat laju penis saya sambil meremas-remas payudaranya yang kenyal. Akhirnya "Aahh.. aakhh", sperma saya muncrat di dalam vagina Tante Nina. Lalu saya segera tarik penis saya dan meminta tante saya untuk membersihkannya. Ia pun segera menjilatinya sampai bersih. Kami terkulai lemas di atas ranjang. Lalu saya melepaskan ikatan Tante Nina. Tante Nina hanya tersenyum dan berkata "Lain kali kalau mau ngeseks sama tante bilang saja, nggak usah malu-malu." "Jadi, tante nggak marah sama Doni?" sambung saya. "Enggak tante kagak marah, cuman tadi rada kaget and nerveous, soalnya tante sudah lama kagak ngerasain ngeseks yang kayak begini nikmat. Habis om kamu itu cepet keluar, jadi tante terpaksa harus mastrubasi sendiri supaya puas."

Akhirnya saya berdua dengan tante saya mandi bersama untuk membersihkan diri dan sempet main sekali lagi di kamar mandi. Lumayan khan pengalaman saya, sudah pernah mencoba vagina tante sendiri. Cerita di atas benar-benar terjadi. Nanti saya akan ceritakan lagi pengalaman seks saya dengan Tante Nina dan adiknya Tante Nina di apartmen kakek saya di Singapora.

Tamat


Penyesalanku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Hello, nama saya Florence Kim seperti yang anda ketahui bahwa saya telah banyak berkontribusi di Rumah Seks. Banyak sekali cinta yang dapat membangkitkan keinginan untuk bercinta dan sekarang saya akan menceritakan pengalaman yang dialami oleh adik kandungku yang berumur 12 tahun.

Saya memiliki seorang adik yang bernama Lionel. Dia berusia 12 tahun dan bersekolah di salah satu SMP di Jakarta Timur. Beberapa bulan yang lalu, Lionel datang mengunjungiku karena dia sedang dalam liburan selama 1 bulan dan saya tidak begitu tahu liburan apa, yang pasti saya senang sekali karena adikku datang dari Jakarta. Di saat itu, Lionel datang bersama temannya yang bernama Lyndon. Lionel berkata bahwa dia sempat singgah 1 hari di Singapura karena dia mesti menjemput Lyndon yang sedang sekolah SMP juga di Singapura dan bersama-sama pergi ke Roma, Italy.

Disaat adikku dan temannya datang, Erick kebetulan sedang tugas di luar negeri sehingga saya bisa menyempatkan untuk pergi berjalan-jalan bersama adikku dan temannya. Setelah seharian saya menemani Lionel dan Lyndon, saya merasa lelah sekali sehingga saya memutuskan untuk beristirahat setelah kami bertiga selesai mengelilingi kota Roma.

Di saat saya sedang terlelap tidur, tiba-tiba saya merasakan ada 2 orang laki-laki yang sedang menggerayangi tubuh saya dan membuat saya terbangun dari tidur dan melihat apa yang sedang terjadi. Saya sempat kaget karena saya menemukan tubuh saya dalam keadaan telanjang total dan saya melihat Lionel sedang mengulum payudara saya yang sebelah kiri sedangkan Lyndon, temannya sedang mengemut payudara saya yang sebelah kanan sambil tangannya mulai nakal karena mulai menggerayangi bagian sensitif saya yaitu di sekitar kelamin dan klitoris.

Saat itu saya teringat sekali bahwa ada 2 pikiran yang berlainan berkecamuk di dalam diri saya. Di satu pihak, saya tidak mau bercinta dengan adik saya sendiri sedangkan di lain pihak, saya semakin terangsang dengan permainan mereka apalagi Lyndon semakin liar memainkan tangannya di bagian klitorisku sehingga membuat saya mendesah-desah sambil mengelus-elus leherku yang cukup jenjang.

Adikku mulai menghentikan aksinya dan mulai mendekati kelaminku dan dia mulai menjilati liang kenikmatanku dengan lidahnya yang masih kecil. Saya merasakan kenikmatan yang belum pernah kudapatkan dari seorang bocah kecil dan saya mengetahui bahwa mereka sedang mempelajari cara memuaskan seorang wanita karena Lionel menjilati liang kewanitaan saya sambil kadang-kadang melihat ke buku pornonya yang memperlihatkan gambar seorang wanita telanjang dan sekali-kali memperlihatkan ke temannya. Saya kurang mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh mereka karena saya mulai merasakan getaran-getaran hasrat yang membuatku ingin bercinta dengan adikku sendiri.

Saya langsung berkata kepada Lionel, "De, kamu entotin Cici ya.. Cici udah nggak tahan nih". Dengan polos, Lionel menjawab, "Gimana caranya, Ci?". Dengan tenang kemudian, saya menyuruh Lionel untuk berbaring dan saya menyuruh temannya untuk pindah tempat sebentar. Saya mulai mengarahkan batang kemaluan Lionel yang masih kecil tetapi sudah menegang dan mulai memasukkannya ke dalam lubang kelaminku. Saya melihat Lionel mulai meringis merasakan sensasi dan ketika dia mendesah-desah karena kenikmatannya berada di dalam liang kenikmatanku, saya mulai menggoyangkan tubuhku sehingga Lionel mulai menggelinjang merasakan kenikmatan.

Di saat saya sedang berada di atas Lionel, Lyndon kemudian mendekati saya dan memasukkan batang kemaluannya yang juga telah menegang ke dalam mulutku. Dengan lahapnya, saya terus mengulum batang kemaluan Lyndon sementara saya masih menaik-turunkan badan saya yang berada di atas tubuh Lionel sehingga secara nafsu, Lionel langsung mengelus-elus payudara saya sehingga saya merasakan sesuatu kenikmatan yang pernah saya dapatkan dengan Erick, Polly dan Herman.

Tidak beberapa lama, mungkin karena Lionel baru pertama kali, tiba-tiba dia mempercepat gerakannya dan dia memeluk saya erat sekali dan saya telah dapat merasakan cipratan sperma yang keluar membasahi liang kenikmatan saya dan di saat yang bersamaan saya juga mengalami nikmatnya surga dunia sambil terus mengulum batang kemaluan Lyndon yang masih berada di dalam mulut saya.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba Lyndon meminta gilirannya dan dia langsung berbaring di sebelah saya. Dengan cara yang sama, saya mulai berada di atas Lyndon dan mulai memasukkan batang kemaluan yang sudah tegak berdiri ke dalam selangkangan saya yang masih memerah dan masih ada cairan kenikmatan dari adik kandung saya. Saya memasukkan batang kemaluan Lyndon perlahan-lahan dan saya telah dapat melihat perbedaan ekspresi wajah Lyndon ketika batang kemaluannya telah memasuki goa kenikmatan saya. Lyndon meringis kenikmatan dan dia memeluk saya dan mengulum bibir saya. Dengan nafsunya, Lyndon menggenjot tubuh saya yang berada di atasnya sambil sekali-kali memainkan payudara saya yang cukup besar. Saya masih terus bercinta dengan Lyndon sampai titik kenikmatan penghabisan yang dia muncratkan ke dalam liang kewanitaanku.

Adikku dan temannya telah KO karena kehabisan tenaga tetapi saya masih belum puas karena sejujurnya saya termasuk cewek hiperseks. Saya dapat mengerti mereka cepat klimaks karena mereka masih belajar dan saya senang mereka cepat belajar. Saya sempat menanyakan ke mereka berdua kenapa mereka nekad menggauli saya padahal saya tidak menyuruhnya. Rupanya, mereka sama persis seperti Herman Irwanto karena mereka mengetahui bahwa saya gila seks ketika mereka membaca situs favorit mereka yang beralamat di http://www.17tahun2.com dan saya sempat kaget mendengar alamat URL yang mereka sebutkan karena saya selalu mengirimkan pengalaman-pengalaman gila saya ke alamat tersebut dan sekarang mereka telah mengorbankan keperjakaan mereka karena mereka ingin mencicipi kelamin Florence Kim yang sangat menyukai seks.

Saya mengharapkan saya dapat mengenal banyak orang-orang Indonesia yang tinggal di Roma dan tentunya mereka mesti menyukai permainan seks bebas. Kisah ini terjadi secara nyata dan beberapa minggu setelah kejadian saya bercinta dengan adik saya dan temannya, saya merasakan mual-mual dan saya sempat kaget karena saya dinyatakan hamil oleh dokter. Saya tidak tahu mesti berkata apa kepada Erick karena bayi yang saya kandung belum tentu adalah milik Erick karena saya pernah bercinta dengan banyak orang dan mudah-mudahan ini bukan bayi Polly atau saya bisa menjadi gila jika ini beneran bayi Polly. Saya sangat menyesal tetapi semuanya telah terlambat.

Tamat


Pelajaran pertama dari Tanteku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Selama aku masih menganggur, aku sering ke rumah Tante Kis. Selama di sana aku membantu membersihkan halaman dan mengatur perkakas rumah. Maklum tanteku itu hidup sendirian. Untuk urusan angkat-mengangkat (mengangkat barang red) ia tidak sanggup. Suatu sore setelah aku menggeser pot di halaman agar kelihatan rapi, aku mau ke kamar mandi, mau cuci tangan dan buang air. Toilet Tante Kis ada di dalam kamarnya, sehingga kalau mau ke kamar mandi harus ke kamarnya dulu. Tanpa ragu-ragu kubuka kamar yang tidak terkunci itu untuk menuju kamar mandi. Begitu kubuka pintu kamarnya aku kaget, kulihat Tante Kis baru saja selesai mengeringkan badannya dengan handuk sehabis mandi. Saat kubuka pintu tadi, Tante Kis sedang dalam keadaan telanjang membelakangiku. Tante Kis rupanya tidak menyadari kalau aku sedang memperhatikan pinggul dan bokongnya dengan gemetar. Beberapa menit kemudian kututup kembali pintunya, dengan perasaan yang galau dan takut karena memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.

Malamnya aku tidak bisa tidur, kemaluanku berdiri terus. Aku keluar dari kamar, rupanya Tante Kis sedang nonton TV sendirian. Aku mau menegurnya tapi tunggu dulu, Tante Kis sedang memakai pakaian yang merangsang, pahanya yang putih tersingkap, sementara tangan kanannya rupanya sedang mengelus kemaluannya sendiri. Aku diam-diam duduk agak di belakang posisi duduknya sambil memperhatikan tingkahnya tersebut dengan sedikit was-was. Akhirnya dengan perasaan yang makin kacau aku kembali ke kamar. Kemaluanku yang makin tegang akhirnya kukeluarkan juga, sambil kuelus-elus.

Beberapa menit kemudian kejantananku sudah sedemikian kencang dan terasa ingin keluar.
Tiba-tiba terdengar suara Tante Kis, "Kenapa Tok, kepanasan ya?"
"Eh.. iya Tante," jawabku terbata-bata.
"Kamu kenapa?" tanyanya tanpa melihat ke arah kemaluanku.
Aku penasaran dan dengan memberanikan diri, kubiarkan terus kemaluanku tergerai di luar celana dalamku.
"Nggak tahu nih Tante, ini tegang terus," sambil kutunjukkan kemaluanku.
Tante Kis melihatnya sekilas dengan tenang. Tante Kis terus masuk ke kamarku tanpa mempedulikan lagi kejantananku yang menantang.
"Tok, tolongin Tente dong, kelilipan nih.." sambil mengucek-ngucek matanya.
Aku berdiri dan kuhampiri, instingku mengatakan bahwa ini adalah isyarat saja agar aku mendekatinya.

Pikiranku sudah sangat jorok. Kuhampir Tante Kis, senjataku yang sudah siap tempur mengarah lurus ke depan menuju perutnya. Lalu kupeluk Tante Kis, batang kemaluanku terjepit di perutnya, tanganku meremas ke arah payudaranya. Rupanya Tante Kis tidak memakai BH. Aku semakin berani, kusingkapkan dasternya, kugapai payudaranya dengan penuh nafsu. Tante Kis diam saja. Tenang saja dia. Kuciumi lehernya dari belakang, payudaranya masih kencang. Beberapa saat kemudian payudaranya makin keras dan putingnya makin menantang. Nafas Tante Kis sudah mulai mendesah-desah tanda dia mulai terangsang.

Kubuka dasternya, kulihat tubuhnya yang putih mulus. Kulepas celana dalamnya, bulu kemaluannya lebat di atas kulitnya yang putih. Tanpa kusadari kami sudah saling berpelukan tanpa dibatasi selembar benangpun. Tante Kis sudah membalas ciumanku dengan buasnya. Tubuhku semuanya diciumi, sampai ke bawah, terus ke perut, terus ke bawah lagi dan sampailah ke arah kemaluanku yang sudah ia genggam sejak tadi, barangkali takut kusembunyikan. Aku mengambil posisi duduk di pinggir tempat tidur, sementara dengan gerakan yang berpengalaman ia mulai mengulum dan menjilati kejantananku sambil tangannya mengocok dengan lembut. Aku merasa nikmat yang luar biasa, bersamaan dengan itu keluarlah maniku, sebagian menyemprot ke hidungnya yang mungil. Tante Kis masih mengocok-ngocok sambil meremas-remas kemaluanku, sehingga tuntas sudah sperma yang kukeluarkan tadi. Tante Kis kelihatan puas. Apalagi aku, seribu kali puas. Tante Kis masih terus mempermainkan kemaluanku yang sudah tidak sekeras tadi meskipun belum juga menyusut. Tante Kis terus mempermainkan kemaluanku. "Kontol kamu bagus To, besar lagi." Aku tidak menjawab, hanya tersenyum manja. Oleh kelihaian tangannya, segera kurasakan kembali rasa nikmat seperti saat ngaceng tadi. "To, kontolmu sudah ngaceng lagi. Masukin ke gawukku yuk." Lalu Tante Kis mengambil posisi terlentang di sebelahku, mani yang menempel di wajahnya sudah dibersihkan dengan bantal.

Tanpa diperintah lagi, aku mengambil posisi sebaliknya. Kuarahkan kemaluanku ke liang senggamanya yang merah merekah, dibimbingnya batang kejantananku dengan tangannya, digosok-gosokkan kepala kemaluanku di atas liang senggamanya yang sudah basah ke arah atas dan bawah kemaluannya. Kemudian diarahkan tepat di depan gerbang kemaluannya. Sekali lagi tanpa diperintah dan hanya berdasarkan naluri saja kutusukkan seluruh batang kemaluanku ke dalam liang sorganya. Liang senggamanya terasa sempit, dan dindingnya terus memijit-mijit kemaluanku yang semakin mengeras di dalam goa nikmatnya. Kudengar ia menjerit-jerit kecil menikmati gesekan kemaluanku dengan sempurna. Tanpa kusadari bokongku sudah naik turun yang mengakibatkan batang kemaluanku keluar masuk liang senggamanya. (Barangkali pembaca belum kuceritakan bahwa sakalipun aku belum pernah main perempuan, dengan Tante Kis ini, baru pertama kalinya aku melakukan sendiri apa yang dinamakan senggama, seperti yang pernah kulihat di film biru)

Tidak lama kemudian nafas Tante Kis semakin cepat, bersamaan dengan itu ia semakin kencang menaikkan pinggulnya sehingga liang kenikmatannya meremas-remas mesra batang kejantananku. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Dan kudengar Tante Kis berteriak, "Keluarkan sama-sama To.." Ia mendekap kuat-kuat punggungku, diciuminya bibirku dengan buasnya. Tubuhnya mengejang dan, "Ooohh.. Iihh.. Oohh.." suaranya kali ini keras sekali, di malam yang sunyi.

Kami tidur bersama malam itu. Ia pulas sekali tertidur. Sedangkan aku tidak. Mataku terus melotot. Kejantananku tidak mau kompromi, tetap tegak sempurna. Sekali-kali kuremas payudaranya, ia tetap tidur lelap, kuelus goa kenikmatannya, ia juga diam saja. Kudekatkan lampu duduk di depan selangkangannya. Kupermainkan liang kewanitaannya, kuelus, kusibakkan kedua bibirnya dan kuperhatikan semuanya. Kuraba-raba klitorisnya yang tersembunyi di atas bibir kemaluannya. Oh, baru pertama aku melihat pemandangan ini. Sekali-kali Tante Kis bangun untuk kemudian tertidur lagi. "Aku ngantuk Tok," katanya pelan. Melihat kemaluannya yang bebas tersebut, kumanfaatkan dengan sepuas-puasnya. Akhirnya kukecup juga bibir Tante Kis lalu kujilati, Tante Kis kulihat bergelinjang kegelian sebentar. Lama kuhisap-hisap, kujilati klitorisnya sampai basah. Basah oleh ludahku bercampur dengan lendir yang keluar dari liang senggamanya. Diangkat-angkatnya pinggul Tante Kis, menandakan ia keenakan, seakan ingin lidahku terus menjilatinya.

Melihat Tante Kis sudah memberikan tanggapan, segera kutiduri lagi Tante Kis untuk kedua kalinya. Tante Kis kali ini bersikap pasif mungkin masih kelelahan, kumasukkan kejantananku, kali ini terasa agak seret. Tante Kis merintih, "Pelan-pelan Tok, sakit.." Aku menurutinya. Pelan-pelan kumasukkan batang kejantananku ke dalam liang senggamanya yang seret itu, sampai semuanya habis tertelan oleh kemaluan Tante Kis. Kugoyang sebentar, keluarlah maniku dengan deras.

Begitulah, berkali-kali kusetubuhi Tante Kis, baik dalam keadaan sadar maupun tidak. Aku tidak bisa menghitung berapa kali air maniku muncrat. Sampai akhirnya aku benar-benar kelelahan dan tertidur.

Sejak saat itu aku jadi sering ke rumah Tante Kis. Sampai akhirnya aku diterima kerja di kota lain. Saat ini usianya mungkin sudah 55 tahun. Kadang-kadang aku masih suka mengunjunginya, dan tidak lupa memberikan siraman air kenikmatan ke dalam kemaluannya.

Tamat


Papa tiriku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sungguh tidak enak jika kedua orang tua kita berpisah, dampak yang sangat dirasakan oleh anak-anaknya sangat besar sekali, hal ini ku alami sendiri waktu itu. Kisah nyataku ini ku sajikan agar para pembaca yang budiman berhati-hati pada orang yang belum kita kenal dengan baik lebih-lebih pada Papa tiri yang selalu sok akrab dengan anak-anak tirinya, biarlah Mirna sendiri yang menderita atas perlakuan papa tiriku.

Seperti biasanya setiap pagi aku selalu membuatkan kopi untuk papa tiriku, yach karena Papa bekerja di salah satu perusahaan Swasta dan dia Bos lagi. Awal mulanya sih aku nggak menaruh curiga, karena kelihatannya dia sangat sayang pada aku dan adik-adikku, sehingga lambat laun aku membiasakan diri untuk saling mengenal dan saling mendekat dan sudah ku anggap sebagai ayah kandungku sendiri. Kira-kira hampir 5 tahun sudah Papa menjadi papa tiriku dan kini telah mempunyai 2 anak dari ibu kandungku, waktu kejadian itu aku baru kelas 1 SMA dan waktu itu aku masih umur 17 tahun.

Waktu itu ibu sedang berada keluar kota karena ikut rekerasi dengan ibu-ibu di lingkungan kantor Papa selama 5 hari di Bali.Untung ada 2 pembantu di rumah jadi aku nggak terlalu repot dengan rumah yang begitu besar. Seperti biasa aku mengantarkan kopi ke ruang tidur Papa, karena memang begitulah setiap harinya walaupun kopi itu dibuatkan oleh pembantu tetapi akulah yang selalu mengantarkan kopi ke kamar Papa, untung sekolahku masuk siang. Begitu kamar Papa aku buka, ternyata Papa belum juga beranjak dari tempat tidurnya dan masih memakai baju tidur,
"Pagi Papa" kataku
"Pagi mirna" kata Papa, "Tolong pintunya ditutup Mir..",
Lantas tanpa menaruh curiga ku tutup pintu kamar.
"Mirna, papa agak pusing nich, tolong pijetin kepala papa yach.."
"Ya..Papa "jawabku
Lantas aku menghampiri di tempat tidur Papa, dan langsung kepala Papa aku pijet-pijet, tak lama kemudian Papa mengambil remot TV dan astaga yang kulihat di layar TV itu adalah Film BF yang selama ini belum pernah aku tonton sama sekali, mungkin tadi malam Papa habis menyetel film BF karena ku lihat di samping TV ada beberapa tumpukkan kaset Video.Terus terang aku hanya sekilas saja melihat dan kembali aku tundukkan kepalaku sambil mijitin kepala Papa. "Mirna sudah seharusnya kamu melihat film itu, kamu kan sudah besar.. "katanya,"Nggak.. ahh.. Papa.. malu.. mirna kan masih kecil" "Siapa bilang mirna kecil kan kamu udah kelas 1 sma " kata Papa.

Aku hanya diam saja
"Cobalah lihat mumpung tidak ada mamamu, biasa sajalah sama papa nggak apa-apa kok"
Yach..aku coba untuk menurutin kata-kata Papa. Aku lepas tanganku untuk memijitin kepala Papa, kini aku serius mulai menonton Film BF.Hebat sekali, dalam batinku. Tak lama nafsuku mulai terpancing, kelihatan jelas pipiku memerah, kesempatan itu dimanfaatkan Papa untuk mendekatiku
"Mirna.."sambil dia membelai rambutku "Asyik yaa gambarnya"
Aku hanya diam saja sambil terus melihat layar TV. Tangan Papa mulai membelai rambutku, aku biarkan saja. Terus turun ke tanganku meremas-remas.
"Papa jangan dong geli.."
"Nggak apa-apa kan sama papa sendiri"
Lantas dia mulai mencium leherku..
"Jangan ah Papa geli tuh "

Tapi dia terus menciumi leherku dan tangannya mulai masuk ke kaosku dan berusaha memegang payudaraku.
"Papa jangan, jangan Papa geli aku "
Dan dia berhasil membuka tali BH ku. Kini tetekku diremas-remas, aku hanya diam dan geli, aku terus mendesis
"Papa ..Papa .. jangan..ah.."
Aku sudah tak kuat menahan gejolak nafsuku sementara mataku terus melihat monitor TV dengan adegan film BF. Tak lama kemudian dia mengambil sebutir PIL.
"Ini minum PIL dulu biar kamu tahan melihat FILM itu, sebab orang yang melihat Film BF harus minum PIL ini" katanya,
Aku menurut saja dan ku minum PIL pemberiannya. Setelah 10 menit kemudian ada perubahan di dalam diriku, rasanya gairah SEX ku semakin besar aja. Sementara itu dia sudah duduk disampingku dan dia mulai lagi dengan aksinya. Kaos dan Rokku dilepasnya, kini aku hanya tinggal memakai CD saja dia langsung menciumi payudaraku dan mengulumnya
"Ah..ah..Papa..geli tuh..terus Papa"
Pentilku dimainkan oleh dia, rasanya geli dan enak sekali. Lalu dia membuka CD ku yang sudah basah karena terlalu banyak cairan dan dia langsung turun kebawah dan ya ampun vaginaku di ciumi dan lidahnya menjilati vaginaku. Rasanya aku mau pipis saja, geli campur enak membuat badanku menjelit-jelit nggak karuan.
"Enak sekali Papa ", "Papa terus Papa"
"Aduh Mirna sempit sekali vaginamu, nggak seperti vagina mamamu udah besar"
Memang sih aku kan masih perawan waktu itu dan bulu-bulu vaginaku masih sedikit. Barangkali itu yang membuat dia kayak kerasukan setan melumat vaginaku hingga aku tak berdaya.

Lantas aku buka baju piyama dia dan ya.. ampun ternyata dia sudah tidak memakai CD. Jelas sekali penisnya sudah mengacung keatas dan besar sekali serta panjang kira-kira 20 Cm. Aku pegang langsung penisnya dan ku kocok-kocok,
"Mirna kulum dong" pintanya,
"Nggak ah kan jijik Papa nggak ah"
"Coba kamu lihat kayak di TV itu"
"Lihat tuh cewek itu terus mengulum penis kan?"
"Nggak apa-apa cobalah Mir"
Lantas perlahan-lahan penisnya aku masukkan dalam mulutku dan ah enak sekali seperti mengulum Es Lilin. Terus penisnya aku kulum, kini dia mulai mengeliat-geliat tubuhnya.
"Mirna terus Mir enak "
Lantas kini aku yang dibawah dan dia diatas. Lidahnya menjilati vaginaku sementara aku mengulum penisnya. Wah enak sekali "Ah ah terus Papa terus Papa" kataku
Memang penis dia luar biasa gedenya dan panjangnya, atau mungkin masih ada yang panjang lagi karena baru sekali itu sih aku lihat penis orang dewasa

Dia turun dan kini dia mulai mengakangkan ke dua kakiku
"Mir papa masukkan yach penis papa ke vaginamu "
" Jangan Papa sungguh jangan Papa, Mirna kan masih perawan Papa jangan yach kalau yang lain boleh sih, tapi jangan yang satu itu Papa, jangan.. Papa .."rengekku waktu itu.
Maksudku biarlah vaginaku dijilatin dan payudaraku di isep tapi jangan keperawanan, tapi rupanya Papa tidak menghiraukan rengekanku. Lalu penisnya digesek-gesekkan di vaginaku ah.. ah.. aku geli kayak ada benda tumpul menempel di vaginaku.
"Pejamkan matamu Mirna" kata Papa,
Lantas aku pejamkan mataku dan akh.. akhh.. penisnya berusaha masuk ke vaginaku, namun karena vaginaku sangat sempit penisnya tertahan dibibir vaginaku.
"Jangan Papa ..jangan ..Papa tolong Papa jangan.."
Tapi Papa tetap terus memasukkan penisnya dan kini bless slep..,
"Akh ..Papa sakit Papa sakit Papa "
Dia hanya melihat aku kesakitan dan meringis-ringis kesakitan. Penisnya sudah masuk semua ke liang vaginaku. Kini dia perlahan mulai mengerakkan maju mundur.
"Papa..Papa ..sakit.."
Memang sakitnya luar biasa sih aku kan masih perawan sedangkan Dia penisnya seperti penis di film BF itu, besar dan panjang. Lama kelaman sakit itu berubah menjadi enak, aku merasakan kehangatan dalam vaginaku. Dia terus menggenjot penisnya maju mundur. "Papa..terus..Papa " pintahku

Aku kini menikmati penisnya yang lagi masuk di liang vaginaku. Dia terus menggenjot penisnya lama sekali, kira-kira 20 menit. Aduh rasanya capek campur enak nggak karuan
"Akh..akh..aku mau pipis rasanya nich Papa"
"Pipislah itu berarti kamu mau klimaks "
Dan betul cairan yang aku keluarkan banyak sekali. Aku mulai agak lemas tapi dia belum apa-apa, dengan asyiknya menggenjot penisnya yang besar itu di liang vaginakku.
"Terus Papa..aku udah capek nich "
Dan slepp ukh dia mencabut penisnya dari liang vaginaku dan kini penisnya diarahkan ke mulutku
"Mirna hisap penis papa.."
Wah penisnya tambah besar rasanya dan mulai lagi aku mengisap-isap penisnya terus dan tak lama cret..cret.. air maninya keluar sebagian dimulutku rasanya asin getir dan sebagian di wajahmu dan menetes di payudaraku, Hangat-hangat asin dan getir. Dia pun lemas dan lunglai.

"Kamu hebat Mirna nggak kayak mamamu baru sedkit saja sudah lemas"
Aku hanya diam dan menunduk. Mimpi apa semalam aku, kok melayani lelaki bejat seperti dia.
"Jangan bilang siapa-siapa yach.."
Aku hanya diam dan berpakaian kembali, lantas aku berdiri. Aduh rasanya selakanganku sakit sekali kayak ada ganjalan diselakangkanganku. Lantas dia menghampiriku dan memberi uang Rp 100.000,-
"Nich buat jajan yach.."
Aku hanya diam saja dan aku ambil uang itu. Dia kemudian mengambil sprei yang ternodai darah kegadisanku dan mencucinya sendiri takut ketahuan pembantu.

Selama 4 hari 4 malam aku terus melayaninya hingga mamaku pulang dari tournya di Bali. Namun dia terus memanfatkan aku jika mama nggak di rumah, gilanya aku terus menuruti kemauannya kini aku sadar tentang masa depanku sendiri dan aku sudah nggak mau melayani lelaki bejat seperti papa tiriku! .. Awaslah dengan Papa Tiri belum tentu dia sebaik papa kamu.

Tamat


Nyaris saja

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Iwan (nama samaran). Aku itu sudah kuliah semester dua di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Aku tinggal masih bareng orangtua dan adikku yang masih SMP, Dina namanya (juga samaran). Orangtuaku dua-duanya kerja. Jadi rumah sering tinggal adikku dan aku saja, sama pembantu.

Pada waktu sore rumah sedang kosong, orangtua sedang pergi dan kebetulan pembantu juga sedang tidak ada. Adikku sedang pergi. Aku menyewa VCD BF XX dan X2. Aku senang sekali, karena tidak ada gangguan pas sedang nonton. Cerita X2 di VCD itu kebetulan bercerita tentang seks antara adik dan kakak. Gila sekali deh adegannya. Kupikir kok bisa ya. Eh, aku berani tidak ya melakukan itu sama adikku yang masih SMP? tapi kan adikku masih polos sekali, kalau di film ini mah sudah jago dan pro, pikirku dalam hati. Sedang nonton plus mikir gimana caranya melakukan sama adikku, eh, bel berbunyi.

Wah, teryata adikku, si Dina sama temannya datang. Sial, mana filmnya belum selesai lagi. Langsung kusimpan saja tuh VCD, terus kubukakan pintu. Dina sama temannya masuk. Eh, temannya manis juga loh.
"Dari mana lo?" tanyaku.
"Dari jalan dong. Emang kayak kakak, ngedekem mulu di rumah," jawabnya sambil manyun.
"Aku juga sering jalan tau, emang elo doang. Cuman sekarang lagi males," kataku.
"Oh iya, Kak. Kenalin nih temenku, namanya Anti, temen sekelasku," katanya.
Akhirnya aku kenalan sama itu anak. Tiba-tiba si Dina tanya, "Lihat VCD Boyzone aku tidak?"
"Tau, cari saja di laci," kataku.
Eh, dia membuka tempat aku menaruh VCD BF. Aku langsung gelagapan.
"Eh, bukan di situ.." kataku panik.
"Kali saja ada," katanya.
Telat. Belum sempat kutahan dia sudah melihat VCD XX yang covernya lumayan hot itu, kalau yang X2 sih tidak pakai gambar.
"Idih.. Kak. Kok nonton film kayak begini?" katanya sambil memandang jijik ke VCD itu.
Temannya sih senyum-senyum saja.
"Enggak kok, aku tadi dititipin sama temanku," jawabku bohong.
"Bohong banget. Ngapain juga kalo dititipin nyasar sampe di laci ini," katanya.
"Kak, ini film jorok kan? Nnngg.. kayak apa sih?" tanyanya lagi.

Aku tertawa saja dalam hati. Tadi jijik, kok sekarang malah penasaran.
"Elo mao nonton juga?" tanyaku.
"Mmm.. jijik sih.. tapi.. penasaran Kak.." katanya sambil malu-malu.
"Anti, elo mao nonton juga tidak?" tanyanya ke temannya.
"Aku mah asyik saja. Lagian aku udah pernah kok nonton film kayak begitu," jawab temannya.
"Gimana.. jadi tidak? keburu mama sama papa pulang nih," desakku.
"Ayo deh. Tapi kalo aku jijik, dimatiin ya?" katanya.
"Enak saja lo, elo kabur saja ke kamar," jawabku.

Lalu VCD itu aku nyalakan. Jreng.. dimulailah film tersebut. Aku nontonnya sambil sesekali memandangi adikku dan temannya. Si Anti sih kelihatannya tenang nontonnya, sudah "expert" kali ya? Kalau adikku kelihatan begitu baru pertama kali nonton film seperti begitu. Dia kelihatan takut-takut. Apalagi pas adegan rudalnya cowok dihisap. Mana itu rudal besarnya minta ampun.
"Ih, jijik banget.." kata Dina.
Pas adegan ML sepertinya si Dina sudah tidak tahan. Dia langsung kabur ke kamar.
"Yee, malah kabur," kata Anti.
"Elo masih mao nonton tidak?" tanyaku ke si Anti.
"Ya, terus saja," jawabnya.
Wah, boleh juga nih anak. Sepertinya, bisa nih aku main sama dia. Tapi kalau dia marah gimana? pikirku dalam hati. Ah, tidak apa-apa kok, tidak sampai ML ini. Sambil nonton, aku duduknya mendekat sama dia. Dia masih terus serius nonton. Lalu kucoba pegang tangannya.

Pertama dia kaget tapi dia tidak berusaha melepas tangannya dari tanganku. Kesempatan besar, pikirku. Kuelus saja lehernya. Dia malah memejamkan matanya. Sepertinya dia menikmati begitu. Wow, tampangnya itu lho, manis! Aku jadi ingin nekat. Waktu dia masih merem, kudekati bibirku ke bibir dia. Akhirnya bersentuhanlah bibir kami. Karena mungkin memang sudah jago, si Anti malah mengajak French Kiss. Lidah dia masuk ke mulutku dan bermain-main di dalam mulut. Sial, jagoan dia daripada aku. Masa aku dikalahin sama anak SMP sih. Sambil kami ber-French Kiss, aku berusaha masukkan tanganku ke balik bajunya. Mencari sebongkah buah dada imut. Ukuran dadanya tidak begitu besar, tapi sepertinya sih seksi. Soalnya badan si Anti itu tidak besar tapi tidak kurus, dan tubuhnya itu putih.

Begitu ketemu buah dadanya, langsung kupegang dan kuraba-raba. Tapi masih terbungkus sama bra-nya.
"Baju elo gue buka ya?" tanyaku.
Dia ngangguk saja sambil mengangkat tangannya ke atas. Kubuka bajunya. Sekarang dia tinggal pakai bra warna pink dan celana panjang yang masih dipakai.
"Shit!" kataku dalam hati. "Mulus sekali!"
Kubuka saja bra-nya. Payudaranya bagus, runcing dan putingnya berwarna pink. Langsung kujilati payudaranya, dia mendesah, aku jadi makin terangsang. Aku jadi pingin menyetubuhi dia. Tapi aku belum pernah ML, jadi aku tidak berani. Tapi kalau sekitar dada saja sih aku lumayan tahu. Gimana ya? Tiba-tiba pas aku lagi menjilati payudara si Anti, adikku keluar dari kamar. Kami sama-sama kaget. Dia kaget melihat apa yang kakak dan temannya perbuat. Aku dan Anti kaget pas melihat Dina keluar dari kamar. Si Anti buru-buru pakai bra dan bajunya lagi. Si Dina langsung masuk ke kamarnya lagi. Sepertinya dia shock melihat apa yang kami berdua lakukan. Si Anti langsung pamit mau pulang.
"Bilang sama Dina ya.. sorry," kata Anti.
"Tidak apa-apa kok," jawabku. Akhirnya dia pulang.

Aku ketuk kamarnya Dina. Aku ingin menjelaskan. Eh, dianya diam saja. Masih kaget kali ya, pikirku. Aku tidur saja, dan ternyata aku ketiduran sampai malam. Pas kebangun, aku tidak bisa tidur lagi, aku keluar kamar. Nonton TV ah, pikirku. Pas sampai di depan TV ternyata adikku lagi tidur di kursi depan TV. Pasti ketiduran lagi nih anak, kataku dalam hati. Gara-gara melihat dia tidur dengan agak "terbuka" tiba-tiba aku jadi keingat sama film X2 yang belum selesai kutonton, yang ceritanya tentang hubungan seks antara adik dan kakak, ditambah hasrat aku yang tidak kesampaian pas sama Anti tadi. Ketika adikku menggerakan kakinya membuat roknya tersingkap, dan terlihatlah CD-nya. Begitu melihat CD-nya aku jadi semakin nafsu. Tapi aku takut. Ini kan adikku sendiri masa aku setubuhi sih. Tapi dorongan nafsu semakin menggila. Ah, aku peloroti saja CD-nya. Eh, nanti kalau dia bangun bagaimana? Ah, cuek saja. Begitu CD-nya turun semua, wow, belahan kemaluannya terlihat masih amat rapat dan dihiasi bulu-bulu halus yang baru tumbuh. Kucoba sentuh, hmm.. halus sekali. Kusentuh garis kemaluannya. Tiba-tiba dia menggumam, aku jadi kaget. Aku merasa di ruang TV terlalu terbuka. Kurapikan lagi pakaian adikku, terus kugendong ke kamarnya.

Sampai di kamar dia, it's show time, pikirku. Kutiduri dia di kasurnya. Kubukakan bajunya. Ternyata dia tidak pakai bra. Wah, payah juga nih adikku. Nanti kalau payudaranya jadi turun bagaimana. Begitu bajunya terbuka, buah dada mungilnya menyembul. Ih, lucu bentuknya. Masih kecil buah dadanya tapi lumayan ada. Kucoba hisap putingnya, hmm.. nikmat! Buah dada dan putingnya begitu lembut. Eh, tiba-tiba dia bangun!
"Kak..ngapain lo!" teriaknya sambil mendorongku.
Aku kaget sekali,
"Ngg.. ngg.. tidak kok, aku cuma pengen nerusin tadi pas sama si Anti, tidak papa kan?" jawabku ketakutan.
Aku berharap orangtua aku tidak mendengar teriakan adikku yang agak keras tadi. Dia menangis.
"Sorry ya Din, gue salah, habis elo juga sih ngapain tidur di ruang TV dengan keadaan seperti itu, tidak pake bra lagi," kataku.
"Jangan bilang sama mama dan papa ya, please.." kataku.
Dia masih nangis. Akhirnya kutinggali dia. Aduh, aku takut nanti dia ngadu.

Sejak saat itu aku kalau ketemu dia suka canggung. Kalau ngomong paling seadanya saja. Tapi aku masih penasaran. Aku masih ingin mencoba lagi untuk "ngegituin".

Tamat


Nikmatnya tubuh sepupuku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Namaku Edo. Aku adalah seorang mahasiswa di sebuah PTS swasta terkenal di Jakarta. Cerita berawal 2 tahun yang lalu, ketika anak pamanku yang tinggal di Malang disekolahkan oleh orangtuanya ke Jakarta. Devi namanya. Usianya saat itu baru 16 tahun. Walaupun begitu, ia terlihat lebih dewasa dari usianya yang sebenarnya. Tingginya sekitar 165 cm, rambut panjang sebahu dengan bentuk tubuh yang proporsional. Dadanya cukup besar, kutaksir ukurannya sekitar 34 B. Hidungnya mancung dan
kulitnya putih mulus. Maklum, ibunya keturunan Belanda.

Selama bersekolah di Jakarta, Devi tinggal di rumahku. Makin hari, kami semakin akrab. Terkadang, bila ada waktu luang, ku jemput dia sepulang sekolah dengan mobilku. Tidak jarang kuajak dia ke tempat-tempat rekreasi yang ada di Jakarta, atau ke mal untuk sekadar Window Shopping. Semua itu kulakukan hanya untuk berdekatan dengannya. Sejujurnya, aku tergiur dengan keindahan tubuhnya. Namun semua itu masih bisa kutahan. Aku mencoba sebisa mungkin untuk tidak melakukan hal-hal yang menjurus padanya, mengingat dia adalah sepupuku sendiri.

Suatu hari, hujan turun deras sekali. Rumahku sedang kosong saat itu. Kedua orangtuaku sedang sibuk dangan urusan bisnisnya masing-masing. Adikku main ke rumah temannya, sedangkan pembantuku pulang kampung. Tinggallah aku sendiri di kamarku, bersantai sambil menyaksikan film porno ditemani sebotol Vodka. Aku adalah seorang pecandu alkohol. Tiba-tiba kudengar bel pintu berbunyi.
"Siapa yang datang hujan-hujan begini?", pikirku dalam hati.
Segera saja kubuka pintu dan tampak di depan pintu pagar rumahku ada seorang gadis berseragam SMU yang kehujanan. Ternyata gadis itu adalah Devi.
"Kehujanan ya Vi?" dia mengangguk.
"Kenapa ngga minta di jemput?"
"Tanggung Kak, Devi udah di perjalanan pas hujan tadi"
"Ya sudah kamu mandi air panas sana, biar nggak demam nanti."
Dia pun menurut. Saat itu aku baru menyadari di depanku ada pemandangan yang sangat indah. Tubuh Devi yang sangat indah terlihat jelas di balik seragam sekolahnya yang basah kuyup. Saat itu, Devi mengenakan Bra hitam yang sangat seksi. Melihat pemandangan seperti itu, penisku langsung menegang. Tiba-tiba muncul keinginan kuat untuk mencicipi tubuh Devi, sepupuku sendiri. Aku langsung melepaskan semua pakaianku, supaya lebih gampang melaksanakan niat jahatku. Kutunggu dia di depan kamar mandi.

Selang beberapa lama, pintu kamar mandi terbuka dan muncul Devi dengan hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Dia tampak kaget setengah mati melihatku dalam keadaan bugil.
"Kak..", belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, kuterkam tubuhnya.
Kudekap erat dan kutarik handuk yang melilit di tubuhnya dengan cepat, sehingga ia langsung telanjang bulat sama sepertiku. Ku seret dia ke dalam kamarku. Dia mencoba memberontak tapi sia-sia. Tenagaku jelas lebih kuat darinya.
"Kak, apa-apaan ini? Lepaskan!" Aku tidak peduli dengan teriakannya.
Sesampainya di kamar, kuhempaskan tubuhnya ke ranjang. Kutindih tubuhnya, kuciumi lehernya yang putih mulus.
"Kak, sudah Kak, cukup! Ingat aku saudaramu.."
"Diam kamu!"
"Kak Edo mabuk yah.. sadar Kak.."

Teriakan dan rontaannya malah membuatku semakin terangsang. Kulumat bibirnya yang merah dan tipis menggiurkan itu.
"Mmmhh.. mmppff.." Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan oleh bibirku.
Sementara tangan kiriku meremas dadanya yang putih dan montok. Begitu kenyal dan halus. Kumainkan putingnya yang berwarna pink itu. Ia masih belum menyerah untuk berontak. Tetapi, semakin ia berontak, semakin aku bernafsu untuk memperkosanya. Ciumanku turun ke dadanya. Kulumat puting susunya dengan rakus. Kadang kugigit-gigit. Devi menggelinjang kegelian.
"Kak.. sshh.. cukuphh.. udah dong.. sshh" Ujarnya setengah mendesah.
Aku malah semakin gencar melancarkan seranganku. Kali ini jemariku kuarahkan ke vaginanya. Kumasukkan jari tengahku ke dalamnya. Ternyata Devi sudah tidak perawan.
"Ooo, kamu sudah pernah toh.. gimana rasanya, enak kan? Sudahlah, nggak usah malu-malu. Nikmati aja.." Mendengar kata-kataku, Wajah Devi merah padam menahan malu.
"Tidak! Devi nggak mau.."
Mulutnya menolak, tetapi kurasakan vaginanya semakin basah karena jariku bergerak keluar masuk. Pantatnya pun bergerak-gerak merespon gerakan jariku. Kupermainkan klitorisnya dengan jariku. Dia tersentak kaget.
"Aahh.. jangan.. mmhh". Ciumanku pindah lagi ke bibirnya.
Kumainkan lidahku. Selama beberapa detik tidak ada respon. Tetapi beberapa saat kemudian lidahnya membalas lidahku. Dia juga sudah tampak mulai pasrah, tidak lagi mencoba berontak seperti tadi. Kulepaskan ciumanku dari bibirnya. Kujilati dari wajahnya ke leher, turun ke dada, perut dan akhirnya sampai pada lubang kenikmatan. Kujilat-jilat bibir vaginanya sementara jariku masih bergerak keluar-masuk vaginanya.
"Ooohh.. udahh.. geli.." Tangannya mencoba mendorong kepalaku. Tapi kutepiskan dengan tanganku yang satu lagi.
Kuteruskan permainan lidahku di vaginanya. Kali ini kugelitik klitorisnya.
"Uuhh.. sshh.. jangaannhh.. sshh".
Vaginanya semakin basah. Kupikir, inilah saatnya.

Aku segera bangkit dan mengarahkan penisku yang sudah pada ketegangan maksimal. Devi sepertinya tahu apa tindakanku selanjutnya. Dia mencoba mendorongku, tapi kupegangi kedua tangannya. Kubuka lebar kedua pahanya dengan pahaku. Kumajukan pinggulku dan, bless! Dengan sekali tekan, amblaslah penisku ke dalam vaginanya.
"Jangan Kaakk.. oohh" teriaknya berusaha mencegahku.
Tetapi sudah terlambat. Aku tidak membuang waktu. Langsung kukocokkan penisku, semakin lama semakin cepat. Vagina Devi masih sangat sempit. Mungkin karena belum terlalu sering diterobos. Kurasakan vaginanya berdenyut-denyut. Nikmat sekali. Devi pun sepertinya sudah lelah untuk melawan. Ia malah terlihat seperti sedang menikmati setiap sodokan yang kulakukan.
"Ssshh.. mmhh.. uuhh.." begitu saja yang keluar dari mulutnya.

Wajahnya merah, entah merah karena malu, atau karena nafsu. Bibirnya yang seksi terbuka, membuatku ingin melumatnya. Langsung saja kucium bibirnya. Kali ini, Devi langsung membalas ciumanku. Lidah kami saling membelit satu sama lain. Tanganku tidak tinggal diam. Kuremas lembut payudaranya yang indah. Kadang kupelintir putingnya yang sudah menegang.
"Oohh.. sshh.. uuhh" desahannya semakin keras.
"Gimana, enak kan?" tanyaku.
Wajahnya semakin merah mendengar pertanyaanku. Dia hanya terdiam. Kuhentikan sodokanku. Ternyata pantatnya masih terus bergoyang-goyang. Kusentakkan pinggulku secara tiba-tiba. Kupercepat gerakanku sampai pada batas maksimal kemampuanku.
"Aaahh.. Kak Edohh.. uuhh.. sshh.."
"Kenapa sayang? kamu menikmatinya?"
"Iyahh.. oohh.. eennaakkhh.. sshh.. aahh..".
Tak terasa 15 menit sudah kami berpacu dalam nafsu.
"Kak.. sshh.. Devi.. mauhh.. kkelluarrhh.. oohh.."
"Tahan dulu sayang.. hh.. sebentar lagi.."
"Nggak bisaahh.. Devvii kkelluuaarr.. aakkhh.."
Badannya mengejang tak karuan diiringi teriakan kenikmatan yang membahana. Sementara kecepatanku sama sekali tidak kukurangi. Tangan kiriku menggelitik klitorisnya, tangan kananku meremas dan memainkan payudara kirinya, sedangkan bibirku menghisap puting susu sebelah kanan. Semua kulakukan untuk menambah nikmatnya sensasi orgasme.

"Sabar ya sayang. Aku belum keluar." bisikku mesra di telinganya.
Kucabut penisku dari vaginanya untuk memberinya kesempatan beristirahat. Kujilati lehernya sampai ke belakang telinga. Kugelitik klitorisnya dengan jemariku. Tak lama kemudian, vaginanya kembali basah.
"Kamu mau lagi sayang?". Devi mengangguk pelan.
Kali ini dia lebih agresif. Dia langsung memegang penisku da meremasnya.
"Punya Kak Edo besar dan panjang yah.. sampai mentok."

Aku hanya tersenyum. Bangga juga ada yang memuji senjataku, walaupun bukan yang pertama kali penisku diakui kehebatannya. Devi meneruskan aksinya. Dia tidak lagi meremas, melainkan menjilati penisku dari ujung sampai ke buah zakar. Nikmat sekali rasanya. Tak lama kemudian, dia mengulun penisku. Kulumannya sangat nikmat. Lembut, tapi sangat terasa. Aku hanya bisa memejamkan mata dan menikmati setiaphisapan yang dilakukannya padaku. Saat kubuka mata, Devi sudah duduk di atas penisku. Dia lalu mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Dan.. slebb.. tertelan sudah batang penisku oleh vaginanya. Devi bergoyang diatasku seperti orang menunggang kuda. Terkadang, ia memutar pinggulnya, persis seperti goyang Inul. Kuremas-remas payudaranya yang menggantung seksi di depanku. Kadang kuhisap dan kujilati putingnya.

"Oohh.. sshh.. geli.. mmhh.." Devi merintih-rintih di atasku.
Selang 20 menit kemudian, Devi orgasme untuk yang kedua kalinya. Dia langsung ambruk di dadaku. Kubalikkan tubuhnya. Kutusuk dari belakang. Kugerakkan pinggulku secepat mungkin. Devi hanya mampu merintih dan mendesah. 5 menit kemudian, akumerasa ada sesuatu yang hendak keluar dari senjataku.
"Vi.. aku.. mauhh.. kkeelluarr.."
"Janganhh.. dihh.. dalammhh.. mmhh"
Langsung kucabut penisku dan kuarahkan ke wajahnya. Kubiarkan dia mengulum penisku. Beberapa detik kemudian.. croott.. croott.. aku ejakulasi di wajahnya. Sebagian spermaku masuk ke mulutnya, dan sebagian lagi membasahi wajah, leher dan dadanya.

Kami berbaring lemas dengan nafas tersengal. Kami berbincang-bincang dan akhirnya dia menceritakan tentang mantan pacarnya yang merenggut keperawanannya. Mantan pacarnya adalah kakak kelasnya sewaktu di Malang. Sekarang, anak itu sudah meninggal akibat overdosis narkoba. Devi pindah ke Jakarta untuk berusaha melupakan peristiwa itu. Ia beralasan kepada orangtuanya bahwa sekolah di Jakarta lebih bagus. Setelah cukup lama berbincang-bincang, kuajak dia mandi bersama.

Nafsuku kembali bangkit saat kami saling menyabuni tubuh masing-masing. Saat itu dia menyabuni penisku sambil meremas-remasnya. Langsung kucium bibirnya dan dia membalas dengan tak kalah ganasnya. Kami kembali melakukannya, kali ini dengan posisi berdiri di bawah guyuran shower. Tak henti-hentinya kuremas payudaranya yang montok dan kenyal itu. Kami melakukannya selama kurang lebih 12 menit lalu orgasme hampir berbarengan. Aku kembali berejakulasi di wajahnya. Entah mengapa, aku sangat merasa sangat puas bila melihat wajah wanita berlumuran spermaku.

Kami masih sering melakukannya hingga saat ini. Tak hanya di rumah tetapi juga di tempat-tempat lain seperti di hotel, mobilku, bahkan pernah kami melakukannya di WC sekolahnya. Padahal, aku sudah punya pacar dan Devi pun begitu. Ada kepuasan yang berbeda bila bercinta dengannya. Ada satu hal yang sama-sama ingin kami coba, yaitu beradegan three some. Ada yang berminat untuk ikutan?

Tamat


Nenek ohhh... nenekku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Usiaku menginjak 16 tahun ketika nenek tinggal di rumahku. Semenjak kakek meninggal beberapa tahun yang lalu nenek tinggal sendirian di rumah besarnya ditemani beberapa pembantu dan pengurus rumah. Namun setelah nenek mengalami gangguan pada daya ingatnya (pikun), orang tuaku memutuskan untuk membawa nenek ke rumah karena selalu khawatir kalau ditunggui oleh orang lain di tempat terpisah. Karena pikunnya sudah berat, orang tuaku berpesan kepada kami agar menjaga nenek ekstra hati-hati, meskipun kita sudah menyediakan seorang suster.

Usia nenek kira-kira 60 tahun, tapi kondisinya tidak seperti kebanyakan manula, nenek pandai merawat diri karena beliau dulunya isteri seorang pejabat tinggi. Badannya langsing dan masih kelihatan segar, meskipun tidak mirip, boleh dikatakan tipenya Titiek Puspa lah. Sudah tentu waktu mudanya nenek cantik sekali, seperti yang saya lihat di foto-fotonya.

Penyakit nenek yang paling parah adalah kondisinya yang pikun, sampai-sampai tidak mengenali kita semuanya. Kesenangannya, setiap hari cerita tentang masa-masa lalu seolah-olah dia sedang terlibat pembicaraan dengan orang dulu yang dikenalnya. Untungnya secara fisik masih sehat walafiat. Dia masih bisa mengurusi dirinya sehari-hari. Masalah paling berat adalah harus mengawasi dia sepanjang waktu, seperti mengawasi balita.

Nenek adalah orang yang perfeksionis dalam hal penampilanya. Kelihatanya sebagian besar waktunya habis untuk mematut/merias dirinya. Tiap pagi dia turun dari kamarnya di lantai atas untuk sarapan, terus mandi kemudian mulai me-make up dirinya. Menurut alam pikirannya dia berada pada masa 25 tahun ke belakang ketika sedang tour bersama suaminya. Rumahku dianggapnya hotel yang dia tinggali selagi tour. Berkali-kali kita harus mencegatnya di pintu depan, yang katanya mau keluar hotel dulu keliling kota.

Cerita selanjutnya, kita sudah terbiasa dengan segala kerepotan mengurusi nenek pikun. Sampai suatu hari segala tanggung jawab menjaga nenek tertumpah semuanya kepadaku. Aku baru saja pulang dari rumah Yanti, pacarku. Lama-lama kepingin juga merasakan vagina perawan. Usiaku saat itu 19 tahun. Yanti sudah mau saat kuajak ke pangandaran liburan ini. Wah.. pokoknya pikiranku sudah penuh dengan vagina perawannya yanti.

Baru saja aku masuk rumah, ayah sudah memanggilku lalu ngomong, seperti sudah direncanakan ayah dan ibuku akan menghadiri pernikahan anak kliennya di Singapora selama seminggu, tapi Mbak Wien suster nenekku mendadak pulang kampung karena ibunya meninggal. jadinya sebagai orang satu-satunya di rumah aku yang harus menjaga nenek sendirian.

Kesel sekali hatiku, hancur deh liburanku tapi mau gimana lagi, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena keadaanya mendesak. Meskipun di depan ayahku manggut-manggut tapi hatiku gondok sekali. Gagal total bulan maduku bersama Yanti, padahal sudah kurencanakan masak-masak.

Untuk persiapan menjaga nenek 24 jam setiap hari dalam seminggu, aku beli makanan dan minumana secukupnya, dan tidak lupa aku sewa VCD porno banyak sekali. Ayah dan ibuku berangkat setelah makan siang sementara Mbak Wien sudah berangkat sejak kemaren sore.

Aku cek nenek di kamarnya, kemudian aku ke ruang tengah nonton VDC sambil makan makanan kecil. Tak terasa waktu sudah sore dan hampir gelap, karena kebanyakan nonton VCD porno, aku jadi horny sekali, apalagi ingat Yanti, wah.. kapalaku serasa mau pecah karena menahan nafsu. Akhirnya aku kocok-kocok sendiri penisku. Aku masih duduk di depan TV sambil mengocok penisku ketika kulihat nenek turun dari kamarnya. Wow..!, cantiknya.. Dia memakai gaun malam warna biru yang ketat sehingga tampak semakin seksi, rambutnya tertata rapi, sepertinya butuh waktu yang cukup lama untuk merias dirinya seperti itu. Kulihat penampilan nenek malam itu sangat istimewa.

"Saya akan pergi makan malam bersama suami saya", katanya, sambil ngeloyor menuju pintu depan.
Tadinya akan kubiarkan saja dia pergi. Tapi kuurungkan niatku itu, kiamat tuh kalau sampai nenek hilang, cepat kuhampiri dan kupegang tangannya.
"Lepaskan aku anak muda", katanya marah.
"Akan kulaporkan kamu kepada pimpinan hotel ini."
Sambil berkata begitu, dia menepiskan tangannya sambil tetap mencoba melangkah ke pintu depan. Untung tangannya kupegang kuat sekali. Kucoba memberikan penjelasan, seperti yang sudah-sudah tapi tidak berhasil. Alam pikirannya masih tentang dunia masa lalunya dan tak pernah mengenali lagi alam nyata sekarang ini.

Secara tiba-tiba dia meronta kuat sekali dan terlepas dari peganganku. Kemudian berlari ke arah pintu depan. Secepat kilat aku mengejarnya. Kukunci pintu depan. Setengah kuseret kutarik nenek kembali ke kamarnya. Sambil menaiki tangga dia ngomel-ngomel sambil mukuli punggungku. Biasanya kubujuk dia sambil meladeni ocehannya tentunya sambil berpura-pura jadi orang pikun juga. Tapi kali ini lagi nggak mood, berhubung aku masih dongkol dan nggerundel.

Begitu sampai di kamarnya, dengan agak keras kudorong dia ke tempat tidurnya. Karena kudorong tiba-tiba dia agak terjengkang kemudian terguling di ranjangnya sambil kedua kakinya terangkat ke atas. Ketika itulah gaun bawahnya merosot sampai pinggangnya. Ketika itu kulihat celana dalam nenek berwarna hitam, kakinya masih padat dan putih mulus, para pembaca juga nggak bakalan nyangka kalau itu paha manula.

"Keterlaluan", tangisnya. "Aku akan laporkan kamu sama manajemen hotel ini", katanya lagi sambil merapikan bajunya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, mungkin karena sedang horny berat. Kutarik lagi bajunya sambil kucoba melepaskan ke atas melalui kepalanya. Setelah itu tanganku merayap ke bawah lagi, Kutarik celana dalamnya perlahan-lahan sampai akhirnya lepas di ujung kakinya.

Nenek kelihatannya shock beberapa saat dan hanya diam terbaring di ranjangnya. Aku berdiri sambil terus perhatikan vaginanya. Penisku sudah keras sekali, apalagi bayanganku tentang rencana liburan bersama Yanti berkecamuk lagi. Cepat-cepat kubuka seluruh pakaianku, kemudian naik ke atas ranjang. Aku berlutut diantara kedua kakinya. Tanganku mulai mengelus-elus pahanya, kemudian perlahan-lahan kuelus vaginanya. Ooohh.. tubuhku bagaikan dialiri strum ratusan watt, menggelepar-gelepar sambil leherku tercekat menelan ludah.

Meskipun sudah pikun, sepertinya dia mulai menyadari apa yang sedang terjadi. Dia berusaha melepaskan diri. Kudekap dia erat-erat. Dia meronta-ronta minta dilepaskan ketika kutindih tubuhnya. Sambil tangan kananku mendekapnya, kupegang penisku dengan tangan kiri, lalu kuarahkan dan kutempelkan di bibir vaginanya lalu perlahan-lahan mulai kutekan.

Dia mengerang. Mula-mula kugenjot pelan sekali. Kudorong semakin dalam setiap kali kutekan. "Ooohh.. eenak sekali". Vaginanya semakin basah. Tiba-tiba tangannya terlepas kemudian menarik kepalaku, dan menciumku dengan sangat dalam sekali.
"Oh Mas Satro..! Aku selalu mencintaimu", diantara desahannya sambil menangis.
Dalam fikiranya dia sedang bersetubuh dengan suaminya (kakekku).
"Aku minta dari belakang seperti yang biasa kita lakukan", dia memohon.

Kulonggarkan dekapanku dan kubiarkan dia berbalik kemudian nungging. Kuarahkan penisku ke vaginanya.
"Ooohh.. sshh", semakin nikmat, sepertinya semakin sempit dan menjepit. Kita bersenggama dengan doggy style. Setiap kali kugenjot dan kudorong dia mengerang dan mendesah serta tubuhnya mengejang-ngejang.
"Oh Mas Sastroo..! aku mau kelluarhh.. shh.."

Kita orgasme secara bersamaan. Kutekan dalam sekali dan kusemprtokan seluruh air maniku sampai ke dasar-dasarnya. Kita berbaring kelelahan beberapa saat. Tiba-tiba tangannya mengelus-elus penisku. "Oh.. shh" aku tegang lagi. Kuraba dan kuelus seluruh lekuk tubuhnya BH-nya yang berwarna hitam kulepaskan dan kini semua pakaianya teronggok di lantai, kita betul-betul bugil saat itu. Kamipun bersetubuh lagi. Bermacam-macam gaya kami praktekkan hari itu hingga aku merasa puas menyetubuhi nenekku sendiri. Kejadian itu berlangsung hingga seminggu sampai orang tuaku kembali dari Singapura. Setelah kedua orang tuaku kembali dari Singapura saya tidak pernah lagi menyetubuhi nenekku tapi sebagai gantinya aku setubuhi Yanti, pacarku.

Tamat


Naning, sepupuku, kasih sayangku

0 comments

Temukan kami di Facebook
Belum begitu nyenyak betul tidurku, saat kudengar suara Ryan mengetuk pintu kamar kostku dengan keras. Buru-buru aku beranjak berdiri dan membukakan pintu.
"Ini sepupumu ya, An?" tanya Ryan sambil menunjuk seorang gadis cantik sekali yang berdiri di sebelahnya. Aku keget, kaget sekali. Gila.
"Naning..?" gumamku setengah tak percaya, "Iya, ini sepupuku dari Jakarta. Neneknya adalah kakak kandung Mamaku. Itu, foto masa kecil kami yang pernah kamu tanyakan dulu itu. Kamu bilang, sepupuku itu kalau dewasa akan cantik sekali. Nah, ini orangnya, Yan!" imbuhku menghela nafas panjang.
Tentu saja Ryan jadi merah padam wajahnya sembari buru-buru undur diri dan kembali ke kamarnya. Naning hanya tersipu malu.

"Oom Andhi.." gumam Naning seperti malu dan takut. Aku hanya tersenyum ramah.
"Masuk dulu yuk. Maafkan temanku kalau tadi ada yang sempat nyinggung perasaanmu ya, habis dia kan satpan kita di sini. Nggak boleh ada cewek masuk ke kamar kost cowok, kecuali ada hubungan famili. Yuk masuk dulu!" kataku menarik bahunya.
Pintu kembali kukunci dari dalam, "Sorry, kamarku berantakan seperti ini. Maklum, mahasiswa seni memang begini. Sulit aku merapikan kamarku sendiri. Duduklah!"
Naning segera duduk di pinggiran ranjangku yang setinggi lutut saja ini, tapi empuk karena memang spring bed.
"Om lagi belajar ya..?"
"Sudahlah Ning, ada apa? Lari lagi dari rumah ya?" tanyaku duduk di sebelah kanan Naning sambil kuminta tas ranselnya terus kutaruh di dekat meja belajarku sembari kurangkul bahunya dengan tangan kiriku, "Ini jam 23:45. Kenapa nggak ngebel dulu, biar kujemput di stasiun atau terminal?"
"Maaf Oom. Aku pengen ketemu dengan temanku waktu SD hingga SMA. Namanya Lusi. Dia tinggal di Parang Tritis.. bisa kan Oom nganter aku? Ini khan ada libur seminggu di kampusku. Lagian, Naning udah kangen juga sama Oom Andhi," pintanya setengah melas. Aku tersenyum saja. Kusadari, memang telah sepuluh tahun kami tak pernah ketemu. Paling banter kedua orang tuanya saja yang sering mampir ke Jogja, ke tempat kostku kalau mereka ada tugas dinas.

"Kenapa tidak? Di sini kan, Naning cuma punya Oom Andhi saja to? Dan lagi Oom juga kangen sama naning, Hmm.., Kapan?"
"Besok pagi ya, Oom?"
Aku hanya manggut kalem sembari kuperhatikan bahwa Naning memang sangat cantik sekali. Tingginya hanya sedaguku saja. Bertubuh kecil lencir dan kulit yang kuning langsat. Di sekujur lengan dan kakinya terlihat bulu-bulu halusnya yang lebat. Naning mengenakan kaos oblong ketat putih dan celana sebatas lutut hijau muda. Rambutnya yang lebat hitam dipotong sebatas bahunya. Aku sendiri malam itu karena udara malam ini gerah, hanya memakai celana pendek kolor batik. Tubuhku yang lama sekali kulatih angkat berat telah membentuk dengan indahnya. Di sekujur lengan tangan dan kaki, rambut lebat tumbuh subur, di samping pada dadaku yang membidang terus turun ke arah perutku yang membentuk kotak-kotak itu. Kini aku baru masuk semester lima. Naning sendiri kuliah di Jakarta mengambil Sastra Inggris dan baru saja masuk semester pertama.

"Acara apaan sih?"
"Ya cuman liburan saja. Juga pengin lihat pantai Parang Tritis."
"Hm, Naning lapar?"
"Makasih Oom. Pengin mandi saja.. udah lengket semua nih!" ujarnya sembari berdiri dan mengeluarkan handuk bawaannya dari tas ransel. Sebuah handuk putih ukuran sedang.
"Tapi mau khan kubuatkan mie rebus telor?"
"Iya deh, Naning mandi dulu ya," ucapnya sambil membuka pintu kamar mandi di kamar kostku yang model disorong seperti pintu-pintu rumah adat Jepang itu. Aku keget. Naning tidak menutup kembali pintunya. Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil sibuk membuat dua porsi mie rebus telor dua porsi sekaligus. Suara gemericik air terdengar jelas dari dalam sana.

Tak berapa lama mie rebus mateng. Buru-buru aku membagi ke dalam dua mangkuk. Saat kusajikan di atas permadani, Naning sudah keluar dengan hanya berkemben handuknya. Aku hanya menelan ludahku sendiri saja. Begitu seksinya tubuh Naning. Aku rasakan bahwa batang zakarku meregang ingin bangkit berdiri. Gila.
"Ada Oom.. kok melihatku begitu?" tanya Naning yang membuatku sadar kembali.
"Ng.. Naning lupa menutup pintunya. Ini mie rebusnya, nggak enak dong ada bau kamar mandi. Sekalipun kamar mandiku berbau harum kapur barus.. iya to?"
"Maaf Oom," sahutnya sambil tersenyum, "Aku masukan pakaian kotorku ke ember pakaian Oom di kamar mandi. Nggak pa-pa ya Oom." imbuhnya lagi sambil duduk bersimpuh di sebelahku yang bersila ini.

"Nggak pakai baju dulu?"
"Naning nggak bawa baju lagi..!"
"Apa?"
"Iya Oom, pulang kuliah, Naning mampir ke toko buat beli handuk lalu ke sini, untung dapat kursi, walau di restorasi, pakai beli jatah kru lagi!"
"Jadi itu tas kuliahmu? Bukan tas travellingmu?" tanyaku kaget.
Naning menggeleng, terus menyantap mie rebusnya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku sambil selintas melihat tasnya.
"Oom ada kaos dan celana pendek. Mau khan?"
Naning hanya melirikku selintas, lalu menghabiskan mie-nya. Aku urungkan menyantap mie-ku, aku terus membuka lemari pakaianku. Mengambil kaos putih ketat milikku dan celana pendek hitam kolor. Naning memang suka kaos ketat sejak kecil. Saat aku berbalik badan, Naning ternyata sudah berada di depanku, berdiri memperhatikan kaos dan celana yang kupegang.

"Oom yang memakaikan di tubuhku yaa Oom, seperti dulu itu waktu di Surabaya, yaa?" pintanya terus menerus merengek-rengek sambil meraih kedua pundakku. Tentu saja aku kaget. Karuan saja, batang zakarku kembali tergelitik. Kaos dan celana itu kutaruh di atas ranjangku, aku mulai melepaskan handuk di tubuhnya. Saat itulah aku melihat pemandangan indah yang sungguh luar biasa eloknya. Sepasang buah dadanya Naning tampak meruncing lurus ke depan. Dilihat dari bentuknya, jelas sekali buah dada Naning berukuran sekitar 34 saja. Kedua puting susunya masih terselip ke dalam separuh dan warnanya hitam pekat kemerahan. Naning kuperhatikan hanya memejamkan kedua matanya saat dengan nakalnya aku meraih kedua buah dadanya itu dengan jemari kedua tenganku.

"Naning," bisikku tegang dan parau.
"Oom.. ouhh.. hhmm.. oouh..!" gumamnya lirih tapi menggodaku.
Kuperhatikan di bagian bawahnya, rambut kemaluannya tumbuh lebat sekali dan tebal.
"Naning!" ujarku sambil membanting tubuh bugil Naning di atas ranjang empukku. Naning tak menolak atau memberontak. Sesaat setelah aku melepas celanaku, dia kuminta untuk melakukan oral sex terhadap batang zakarku. Heran, dengan lihai dan kelaparan, batang zakarku dilumat-lumat habis sambil disedotnya kuat-kuat. Kini aku yang telentang, sedangkan Naning nungging sambil sesekali mengocok-ngocok zakarku yang mulai tegang setegangnya ini.

"Lebih keras lagi Ning, ayooh.. ouuhkk.. ouhkk.. teruskan Ning.. teruus.. ouhh.. aahk!" gumamku menggerinjal-gerinjal nikmat. Mulut Naning kian ganas menyedot-nyedot zakarku. Berulang kali tangan kirinya meremas buah pelirku, sehingga aku menjerit kesakitan dengan nikmatnya. Sedangkan tangan kanannya membantu ereksi zakarku dengan mengocok-ngocoknya secara keras dan kuat sekali. Air liurnya membantunya agar zakarku tidak lecet. Terakhir saat aku menggauli anak ABG yang masih SMP dari Mall Malioboro itu, si ABG sempat mengukur bahwa batang zakarku dikatakan paling gede sepanjang dia melayani laki-laki sepertiku. Berukuran panjang 25 cm dan garis lingkar hampir 18 cm.

Keringat kian basah mengucur deras. Naning kian garang saja melumat-lumatkan zakarku. Aku sudah tidak kuat lagi, dan beberapa detik kemudian setelah hampir 15 menit lamanya Naning melakukannya, aku mengalami ejakulasi.
"Creet.. croot.. creet..!" menyembur spermaku di dalam mulutnya Naning.
"Ahhk.. ouhhk..!" jeritku tertahan lalu lemas dan kubiarkan Naning melahap semua air mani dari zakarku itu sambil mengurut-urut dengan keras batang zakarku guna memaksanya keluar sisa-sisa spermanya yang siapa tahu masih ada di dalam batang zakar.
"Oom.. spermanya enaak sekali, banyak banget. Ouh, Oom masih kuat kan?" tanya Naning yang bikin aku kaget.
Belum sempat aku membuka mataku untuk kekagetanku, Naning sudah nangkring di atas tubuh bawahku sembari memegangi batang zakarku yang diarahkannya ke liang vaginanya. Tak karuan lagi, Naning langsung menghujamkan vaginanya ke batang zakarku dan menggenjotnya pelan tapi pasti yang berangsur kepada kecepatan yang dahsyat.
"Ouuh.. ouh Naning.. ouhkk.. aahk.. terus.. terusskan..ouhkk.. yaa.. ouh!" teriakku kegirangan. Aku sadar, kini sadar selintas. Bahwa Naning ingin sekali memperkosaku, karena sejak dulu memang dia suka sekali memegangi penis kecilku saat SD. Kami memang sering mandi bareng satu bak. Dan dia suka sekali menarik-narik penisku sambil melumatnya. Saat itu aku tak paham tentang dunia seks. Rupanya dia anak yang hyperseks. Dengan gemas, aku meraih kedua buah dadanya, kuremas-remas lalu kutarik-tarik ke arahku.

"Oom.. aauh.. ouhk.. ouhk Oom..!" jerit geli Naning merem-melek matanya. Kini dia juga mandi keringat. Naning langsung menerkam mulutku dengan mulutnya. Lama sekali kami saling berpagutan dan berciuman secara liar dan dalam. Sedangkan kedua tanganku tetap meremas-remas buah dadanya yang mulai kenyal membesar, sementara puting susunya meregang tegang keras. Di bawah, vagina Naning terus menerus naik turun menarik diri lalu menekan kuat ke arah selangkanganku. Saat vaginanya menekan, batang zakarku kudorong ke atas menyambut vaginanya yang berukuran sangat sempit tapi kenyal dan lembab. Otomatis, batang zakarku dapat menerkam klitorisnya yang sangat hangat itu. Aku tak kuasa lagi kini menahan ejakulasiku yang kulihat kini bertahan di menit ke duapuluh.

"Creet.. croot.. creet.. creet..!" semburan spermaku di dalam vaginanya.
"Ahhkk.. ouhkk.. Oom..!" teriak mulut Naning melepaskan diri dari mulutku sambil menekan sekuatnya vaginanya ke arah zakarku, begitupun sebaliknya.
"Naning.. ouh.. ohh..!" gumamku lirih dan lemas sekali. Sedangkan Naning hanya terdiam saja sambil tetap memelukku erat dan merem matanya. Sesaat lamanya kami mengatur nafas. Keringat terus membasahi kami berdua. Kami pun terhempas ke dalam lembah kenikmatan

Begitulah para pembaca yang budiman, akhirnya kami pun sering mengulangi perbuatan nikmat tersebut, tentunya selama Naning berada di tempat kostku kesempatan tersebut tidak kusia-siakan.

Tamat


My causin

0 comments

Temukan kami di Facebook
Kisah ini bermula setahun yang lalu, dimana aku harus jaga rumah, karena anak dan istriku sedang berkunjung ke saudaranya selama lebih dari seminggu.
Sore itu sekitar jam lima sore, teleponku berdering, lalu kuangkat dan terdengar suara lembut seorang wanita namun dengan background yang lumayan ramai.
"Halo.., Dik Yanti ada", suara itu sepertinya kukenal, namun sungguh aku lupa siapa dia, yang lebih membuatku bertanya-tanya, dia mencari istriku (Yanti).
Aku pun menjawab apa adanya "Yanti sedang ke Solo, ada yang bisa saya bantu?".
"Lho, ini Dik Bandi ya.., aku Arie, Dik, aku sedang di terminal bis, boleh aku mampir ke rumahmu sebentar?", belum sempat kujawab permintaannya, telepon sudah ditutup, dan aku sendiri masih bertanya-tanya, siapa Arie itu?

Selang satu jam kemudian, ada sebuah taxi yang berhenti di depan rumah, aku melihat dari arah dalam jendela rumah, seorang wanita muda keluar serta menenteng sebuah tas traveler yang lumayan besar. Di bawah keremangan sinar lampu jalan, aku mulai bisa melihat wajahnya. Ya ampun.., ternyata dia adalah Mbak Arie, kakak sepupuku. Meskipun dia kupanggil "Mbak" tapi dia sepuluh tahun muda dariku, dia anak budeku, kakak dari ibuku. Tersentak aku dari kekagetanku, manakala dia berusaha membuka pintu pagar, akupun berlari menyambutnya, menenteng tasnya yang.., ups ternyata lumayan berat. Kupersilakan dia untuk istirahat sebentar di ruang tamu, dan kuletakkan traveler bagnya di kamar depan, yang memang biasanya selalu kosong itu.

Aku bergegas menemui Mbak Arie dan mengajaknya ngobrol sebentar.
"Mbak Arie mau kemana?".
"Aku mau ke Bali Dik, tempat kerjaku pindah ke sana".
Kenanganpun muncul, tatkala aku menatap wajahnya lekat-lekat. Sungguh ia belum berbeda ketika aku bertemu dia sembilan tahun yang lalu, ketika ia masih kelas tiga SMP.

Arie adalah gadis yang manis, sekilas ia seperti artis Maudy Koesnaedy. Tubuhnya yang putih bersih dengan tinggi sedang dibalut T-shirt MCM putih dan celana jeans strecth yang membungkus pinggul dan kakinya yang indah (paling tidak menurutku). Payudaranya sedang besarnya, padahal dulu lumayan kecil kalau tidak bisa dibilang rata. Aku bisa mengatakan demikian, karena dulu sungguh kenangan ini seperti barusan kemarin terjadi.

Waktu itu (sembilan tahun yang lalu dan masih bujangan), aku berkunjung ke rumahnya (di sebuah kota besar di Jawa Tengah), selama seminggu aku tinggal di rumahnya yang besar, yang dihuni Bude, Mas Bayu(sulung) dan Mbak Arie(ragil). Aku sendiri seperti menaruh perhatian khusus kepadanya. Aku tidak tahu ini perasaan sayang atau hanya sekedar suka saja. Ia kelihatan bongsor untuk anak seusianya 14 tahun, namun sungguh, ia seperti kekanak-kanakan. Sering di saat aku membantunya dalam belajar bahasa Inggris, kucium keningnya disaat ia mulai suntuk, untuk memberi semangat supaya giat belajar kembali, namun lama-lama perasaan yang sekedar memberi semangat itupun berubah, aku sering juga mencium kelopak matanya, pipinya dan akhirnya kucium bibirnya disaat ia benar-benar ketiduran di atas meja belajarnya, karena kupaksa untuk menyelesaikan latihan ulangannya. Kugendong tubuhnya untuk kupindah ke tempat tidurnya. Mbak Arie tak bergerak sedikitpun, saat kubaringkan di ranjangnya, terlalu capek rupanya. Terkesiap sejenak aku dibuatnya, jantungku mulai berdegup kencang, saat kulihat rok mininya tersingkap ke atas. Penisku mendadak menggeliat bangun.

Kukunci pintu kamarnya, entah dorongan dari mana, ada keinginan untuk mencium kemaluannya. Perlahan-lahan kuturunkan celana dalamnya dan terlepas. Kulihat lekat-lekat liang kewanitaannya yang tak satupun bulu tumbuh diatasnya, sebuah gundukan daging yang mengundang hasratku untuk segera menciumnya. Kuangkat kedua pahanya, sehingga posisi kakinya membentuk huruf "O". Clitorisnya yang merah muda menyembul keluar. Akupun menciumnya lembut dan aroma kemaluan seorang perawan yang khaspun tercium. Penisku semakin tegang dan sakit, karena posisiku yang kurang menguntungkan. Aku terus mencium dan menjilati naik turun. Lubang kemaluannya basah karena ludahku.

Sejenak aku kaget, karena Mbak Arie mulai menggeliat, aku cepat-cepat menarik selimut untuk sekedar menutupi posisi kakinya. Namun posisinya tidak berubah sampai ia tertidur kembali. Akupun semakin penasaran untuk mengulangi kembali, kali ini tidak saja kujilati, tapi aku mulai menghisap clitorisnya yang kelihatan semakin memerah, aku seperti kesetanan menghisap yang lainnya. Aku berusaha membuka liang kewanitaannya dengan kedua ibu jariku, kelihatan lubang kemaluannya masih kecil dan terlihat nyaris rapat. Kujilati lubangnya, kuusahakan ujung lidahku menerobos lubang yang sempit itu, sampai pada saatnya kemudian ia terbangun dalam keadaan aku masih asyik menjilati bibir kemaluannya.
"Kamu apakan punyaku Dik?".
Tenggorokanku seakan tersekat sesuatu, sehingga tidak mampu menjawab, apalagi melihat wajahnya. Naluriku mengatakan pasti ia benar-benar marah atas kelakuanku tersebut, dan aku tidak tahu, aku harus bagaimana setelah ini, aku hanya bisa menunggu. Sampai beberapa menit kemudian, tangannya meraih wajahku dan mengangkatnya perlahan-lahan, sampai wajahku dan wajahnya berhadap-hadapan.
Sekali lagi dia bertanya "Diapakan punyaku Dik?".
"Aku sayang Mbak Arie.., maafkan aku Mbak" kataku mengiba. Namun keadaan yang tidak kuduga-duga, Mbak Arie mencium bibirku.
"Aku sudah merasakannya, sejak Dik Bandi menciumku di meja tadi", bisiknya ditelingaku
Akupun langsung melumat bibirnya, tangan kananku berusaha mencari-cari payudaranya yang hanya seperti puting saja.

Akupun menyingkap t-shirtnya untuk mengalihkan ke payudaranya. Kuhisap putingnya, Mbak Arie hanya mendesis-desis dan mencengkeram pinggangku erat-erat. Kuhisap bergantian kiri dan kanan puting payudaranya, sampai akhirnya kuhisap kembali liang kewanitaannya yang sudah sangat basah. Kuhisap clitorisnya dengan gemas, dicengkeramnya kepalaku, ia menggerakkan bokongnya naik turun, sampai pada saat berikutnya, ditendangnya pundakku keras-keras sehingga bibirku terlepas dari liang kewanitaannya. Belakangan aku ketahui ia mengalami orgasme yang hebat, sehingga ia tidak bisa lagi menguasai gerakannya. Kupeluk dia, agar ia segera dapat menguasai dirinya kembali.

Demi menjaga perasaannya, akupun berusaha untuk mengeluarkan penisku yang sudah tersiksa sejak tadi dan kuperlihatkan kepadanya. Dielus-elusnya penisku, sambil diamatinya cermat-cermat (mungkin Mbak Arie baru melihat penis yang membesar itu pertama kali), dipermainkannya penisku sampai digesek-gesekannya ke puting payudaranya, sampai pada saat aku sudah tidak bisa lagi menahan cairan di penisku keluar kemana-mana.
Mbak Arie terlihat bergerak sekenanya untuk menghindari.
"Apa itu tadi Dik?".
"Itu spermaku Mbak, itu yang bisa membuat perempuan hamil kalau sempat masuk ke sini", sambil kuusap liang kewanitaannya.
Mbak Arie memelukku, akupun menyambutnya dengan mendekapnya erat-erat.

Tamat


Mertuaku sayang

0 comments

Temukan kami di Facebook
Lazimnya tradisi tahunan untuk pulang mudik lebaran, aku bersama istri dan anak-anakku pun pada hari lebaran kemarin ikut mudik ke rumah mertuaku di kota P, Jawa Barat.

"Aduh senangnya Oma dan Opa kalau kalian datang..", kata mama mertuaku sambil memeluk dan mencium kedua anak-anakku.
"Apa kabar, Pa?", kataku sambil menyalami Papa mertua.
"Baik, Roy..", jawab Papa mertuaku sambil tersenyum.
"Apa kabar, Ma?", kataku sambil menyalami mama mertua.
"Mama baik, Roy..", jawab mama mertuaku sambil memeluk dan cium pipiku kiri kanan.
"Mama kangen..", bisik mama mertuaku ketika mencium pipiku.

Aku hanya tersenyum. Seperti ceritaku sebelumnya ("Aku dan Mertua"), aku sudah lama menjalin hubungan cinta kasih dengan ibu mertuaku.

Begitulah, kami semua berkumpul dan melewati hari lebaran di kota P selama 3 hari, dan sesuai dengan rencanaku sebelumnya, aku sekeluarga akan segera pergi menuju kota lain untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudara yang lain esok harinya.

"Kalian akan pulang kapan?", tanya Papa mertua kepada istriku.
"Rencananya besok pagi kami akan segera ke Bandung, Pa..", kata istriku.

Terlihat wajah mama mertuaku berubah sambil mencuri pandang ke arahku.

"Kalian akan ke sini lagi tidak?", tanya mama mertua.
"Sepertinya tidak, Ma..", jawab istriku.
"Kami dari Bandung nanti akan langsung pulang ke Jakarta..", lanjut istriku.
"Ya kalau begitu, kalian nanti malam harus istirahat agar kuat untuk jalan besok", kata mama mertuaku.
"Ya, Ma..", kataku sambil bangkit berdiri.
"Mau kemana, Pa?", tanya istriku.
"Aku mau periksa kondisi mobil dulu, Ma..", jawabku sambil pergi meninggalkan mereka di ruang keluarga.

Ketika aku sedang memeriksa kondisi mobil, mama mertuaku datang menghampiri.

"Roy..", tanya mama mertua.
"Ya ada apa, Ma?", kataku.
"Mama kangen kamu. Apakah kamu tidak?", tanya mama mertua. Selintas kulihat istri dan anak-anakku masih mengobrol dengan Papa mertua beserta beberapa saudara.
"Saya juga kangen dengan Mama..", kataku sambil menatap matanya.

Mama mertuaku tersenyum manis. Walau umurnya sudah kepala empat, tapi kecantikan dan kemolekan tubuh mertuaku itu masih tampak jelas di mataku.

"Nanti sore atau malam, bisa tidak kalau kita jalan sebentar, Roy?", tanya mama mertuaku penuh harap.
"Mm.. Kita coba nanti, Ma..", kataku sambil tersenyum. Kami lalu saling melempar senyum penuh arti. Kemudian mama mertuaku pergi dan masuk ke dalam rumah.

Sore harinya..

"Pa, Mama ada perlu ke supermarket dulu..", kata mama mertuaku kepada suaminya.
"Emannya mau beli apa?", tanya Papa mertua.
"Mama mau belikan sesuatu untuk anak-anak si Roy untuk di jalan besok pagi, sekalian Mama mau beli keperluan Mama..", kata mama mertua.
"Mama mau pinjam dulu si Roy ya, Sayang..?", kata mama mertua kepada istriku.
"Ya, Ma..", kata istriku.
"Mana anak-anak?", tanyaku pada istriku.
"Udah pada tidur sore..", kata istriku.
"Ya sudah, aku pergi ngantar Mama dulu ya, Sayang..", kataku sambil mencium kening istriku. Istriku mengangguk. Kemudian aku dan mama mertua langsung pergi.
"Senang sekali Mama bisa berduaan dengan kamu, Roy", kata mama mertua sambil mengusap pahaku.

Aku hanya tersenyum sambil melirik ke mertuaku yang tangannya mulai nakal naik dan masuk ke dalam celana Hawaii-ku, lalu jarinya mulai mengelus selangkanganku.

"Sudah beberapa bulan Mama tidak merasakan..", kata mama mertua sambil mengusap-ngusap dan meremas kontolku yang sudah mulai bangkit dari luar celana dalamku.
"Kita kemana, Ma?", tanyaku sambil merasakan desiran kenikmatan ketika tangan mertuaku meremas dan mengocok kontolku pelan.
"Ke tempat biasa saja, Roy..", kata mertuaku.
"Iya, Ma.. Tapi tangan Mama udah dulu dong, ah.. Nanti saya tidak bisa jalan..", kataku sambil tersenyum.
"Hi.. Hi.. Iya deh..", kata mama mertuaku nakal sambil tertawa.

Tak lama kemudian kumasukkan mobil ke pelataran hotel kelas melati di kota P tersebut. Setelah check-in, segera aku dan mama mertua masuk ke kamar yang telah ditentukan.

"Mama sangat kangen, Roy..", kata mama mertua sambil memelukku erat setelah di dalam kamar.
"Saya juga kangen sama Mama..", kataku sambil mengecup bibirnya.
"Mm.. Mmhh..", gumam mama mertua sambil belas melumat bibirku sementara tangannya langsung masuk ke dalam celana Hawaii-ku, lalu masuk lagi ke celana dalam.
"Ohh.. Enak, Ma..", bisikku ke telinganya sambil meremas buah dadanya yang besar.
"Mama selalu pengen dekat dengan kamu, Roy..", bisik mama mertua sambil menurunkan celana Hawaii-ku dan memerosotkannya hingga lepas.

Akupun segera melepas kaos yang kupakai dan celana dalam yang sudah menggembung. Sementara mama mertua juga sama melepas semua pakaiannya hingga telanjang bulat.

"Sudah berapa lamu saya tidak bersama Mama?", tanyaku sambil memeluk tubuh telanjang mama mertuaku. Kontolku yang sudah tegang dan tegak menyentuh-nyentuh bulu memek dan perut mertuaku.
"Sudah tiga bulan kamu tidak kunjungi Mama, Roy..", kata mama mertua sambil memegang dan mengocok kontolku.
"Mama rasanya hampir gila tidak bisa bersama kamu selama itu", katanya lalu melumat bibirku.

Lama kami berciuman sambil saling usap, saling raba, saling remas tubuh masing-masing.

"Ohh.. Mmhh..", desah mama mertua ketika tanganku mengusap belahan memeknya lalu jariku masuk ke lubang memeknya yang sudah sangat basah.
"Royy.. Oohh..", desah mama mertua makin keras ketika aku menurunkan kepala ke dadanya lalu kujilati puting susunya bergantian sembari tangan dan jariku masih tetap memainkan memeknya.
"Royy.. Mama sudah tidak kuat lagiihh..", bisik mama mertuaku sambil menggerakan pinggulnya seiring tusukan jariku ke memeknya.
"Setubuhi Mama sekarang..", pintanya lirih sambil melepaskan diri dari pelukanku lalu dia berbaring di ranjang.

Aku tersenyum, lalu aku pun segera naik ke atas ranjang dan kunaiki tubuh telanjang mama mertuaku.

"Ayo lekas lakukan, Roy..", katanya sambil meraih kontolku lalu diarahkan ke lubang memeknya.
"Mama nggak sabar amat sih..", kataku sambil tersenyum lalu kukecup bibirnya, kemudian kutekan kontolku perlahan sampai akhirnya kontolku masuk semua ke dalam memek mertuaku.
"Ohh.. Shh.. Enakk, Royy..", desah mertuaku sambil menggoyang pinggulnya.
"Mama tidak sabar karena sudah lama tidak mendapatkan kenikmatan dari kamu, sayang..", bisik mama mertuaku.
"Makanya ketika Mama mendapat kabar kalau kamu akan datang berkunjung, hati Mama sangat senang.. Ohh..", lanjut mertuaku.
"Apalagi ketika melihat kamu datang, gairah Mama langsung muncul.. Hanya saja Mama tahan terus..", katanya sambil melumat bibirku.
"Saya juga waktu melihat Mama menyambut, langsung pengen..", kataku sambil terus memompa kontol di memeknya.
"Ohh.. Nikmat sekali, Royy..", desah kenikmatan keluar dari mulutnya.
"Setubuhi mama lebih cepat, sayang..", pintanya sambil mencengkram tubuhku erat.

Aku mengerti kalau mama mertuaku hampir mencapai orgasmenya, maka aku segera mempercepat pompaan kontolku.

"Ohh.. Ohh.. Mama mau keluarr.. Ohh..", lenguhan panjang terdengar dari mulut mertuaku sambil memejamkan matanya. Serr! Serr! Lendir birahi mama mertua menyembur disertai dekapan yang sangat erat di tubuhku.
"Rooyy.. Nikmat sekalii..", desah mama mertua sambil badannya terkulai lemas.

Aku tersenyum melihat mama mertua memejamkan matanya karena menikmati kenikmatan yang tiada tara.

"Ma, balikkan badannya dong..", pintaku sambil mencabut kontolku dari memeknya.
"Apa, Roy? Nungging?", tanya mama mertua.
"Bukan, Ma.. Mama tengkurap saja", kataku.

Mama mertuaku menuruti apa permintaanku. Dia tengkurap sambil membuka kakinya agak lebar sehingga memeknya tampak merekah merangsang. Lalu kuarahkan kontolku ke lubang memeknya kemudian kutekan hingga masuk semua.

"Mmhh.. Enak sekali, Ma..", kataku sambil mengeluarmasukkan kontolku di memeknya.
"Ohh.. Roy.. Enak sekali..", kata mama mertuaku sambil menggoyangkan pantatnya.

Aku terus mengeluarmasukkan kontolku sambil meremas-remas bongkahan pantat mama mertua yang besar dan bulat. Sesekali kusentuh lubang pantatnya dengan jariku.

"Roy, kamu ngapain?", tanya mama mertua ketika aku mencoba memasukkan sedikit ujung jariku ke lubang pantatnya.
"Nggak apa-apa, Ma.. Tapi enak kan, Ma?", tanyaku sambil tetap memompa kontolku di memeknya.
"Iya sih enak.. Tapi jijik kan, Roy..", kata mama mertua sambil memejamkan mata ketika kumasukkan jariku sedikit lebih dalam lagi ke lubang pantatnya.

Tak lama kurasakan sesuatu yang ingin menyembur dari kontolku. Kupercepat gerakan kontolku sambil menikmati perasaan nyaman yang mulai meningkat di kontolku.

"Saya mau keluar, Ma..", kataku serak.
"Keluarkan di memek Mama saja Roy.. Biar enak..", kata mama mertua.

Croott! Crott! Croott! Air maniku menyembur banyak di dalam memek mama mertuaku. Kutekan kontolku dalam-dalam ke memeknya. Terasa kontolku berdenyut-denyut nikmat. Kudekap mama mertua dari belakang tanpa melepas kontolku dari lubang memeknya.

"Nikmat sekali, Ma.. Memek mama masih nikmat..", pujiku.
"Makanya, sering-seringlah kamu kunjungi Mama agar Mama bisa berikan semua kasih sayang dan kenikmatan buat kamu..", bisik mama mertuaku.

Setelah beres-beres, aku dan mama mertua segera keluar dari hotel tersebut lalu menuju supermarket untuk berbelanja keperluan yang dibutuhkan. Kulihat wajah mama mertuaku sangat cerah dan ceria. Sangat jauh berbeda daripada saat sebelum kami bersetubuh lebih dari 1 jam yang lalu tadi.

Selesai berbelanja, kami lalu segera pulang. Di rumah, mama mertua dan aku berlaku seperti tidak ada apa-apa yang telah terjadi di antara kami sehingga tidak ada yang curiga.

Keesokan paginya aku sekeluarga segera pergi menuju Bandung untuk mengunjungi sanak saudara lainnya.

Tamat


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald